Selasa, 10 November 2015

ilmu



Ruang lingkup dan kedudukan filsafat ilmu
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri .
Filsafat ilmu mempelajari apakah objek yang ditelaah dalam ilmu, bagaimana proses mendapatkan ilmu dan apakah kegunaan ilmu tersebut. Objek atau hakekat sesuatu dipelajari dalam ontologi, cara mendapatkannya dipelajari dalan epistemologi, dan kegunaannya dipelajari dalam aksiologi. Dari kajian – kajian yang terdapat dalam ilmu filsafat ilmu kita bisa mengetahui kembali fungsi dari arah filsafat ilmu. Oleh karena itu fungsi filsafat ilmu adalah :
1. Untuk mengetahui objek apa saja yang ditela’ah dalam ilmu
2. untuk mengetahui tentang proses mendapatkan ilmu
3. untuk mengethui kegunaan dari ilmu tersebut
4. untuk mengetahui ciri – ciri tertentu dari cabang – cabang pengetahuan yang termasuk kedalam objek kajian dari filsafat ilmu.
Sedangkan arah dari filsafat ilmu adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang hakikat sesuatu itu benar atau salah , baik atau buruk, indah atau jelek. yang masing – masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk mengetahui tentang filsafat ilmu. Filsafat yang mengkaji tentang salah – benar disebut loga, filsafat yang mengkaji tentang baik – buruk disebut etika dan filsafat yang mengkaji tentang indah – jelek disebut estetika.
Ilmu merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan.
Sejarah perkembangan ilmu
1. Zaman Pra Yunani Kuno (Zaman Purba)
Pada era ini, secara umum terbagi menjadi tiga fase, yaitu:
a. Zaman Batu Tua
Zaman batu tua disebut juga masa prasejarah.[8] Era ini berlangsung sekitar empat juta tahun SM (sebelum Masehi) sampai 20.000 atau 10.000 tahun SM.[9] Pada zaman ini telah mempunyai beberapa ciri khas, di antaranya adalah menggunakan alat-alat sederhana yang dibuat dari batu dan tulang, mengenal cocok taman dan beternak.
b. Zaman Batu Muda
Era ini berlangsung tahun 10.000 SM sampai 2.000 SM atau abad 100 sampai 20 SM. Di zaman ini telah berkembang kemampuan-kemampuan yang sangat signifikan. Kemampuan itu berupa tulisan (dengan gambar dan symbol), kemampuan membaca (bermula dari bunyi atau suku kata tertentu), dan kemampuan menghitung. Dalam zaman ini juga berkembang masalah perbintangan, matematika, dan hukum. Pada zaman batu muda sudah ada kerajaan-kerajaan besar yang ikut andil dalam mengukir sejarah.
c. Zaman Logam.
Zaman ini berlangsung dari abad 20 SM sampai abad 6 SM. Pada zaman ini pemakaian logam sebagai peralatan sehari-hari, bahkan sebagai perhiasan, peralatan masak, atau bahkan peralatan perang.
2. Zaman Yunani Kuno
Zaman ini berlangsung dari abad 6 SM sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritisPada zaman ini banyak bermunculan ilmuwan terkemuka
3. Zaman Pertengahan
Zaman ini masih berhubungan dengan zaman sebelumnya. Karena awal mula zaman ini pada abad 6 M sampai sekitar abad 14 M. Zaman ini disebut dengan zaman kegelapan (The Dark Ages). Zaman ini ditandai dengan tampilnya pada Theolog di lapangan ilmu pengetahuan. Sehingga para ilmuwan yang ada pada zaman ini hampir semua adalah para Theolog. Begitu pula dengan aktifitas keilmuan yang mereka lakukan harus berdasar atau mendukung kepada agama.
4. Zaman Renaissance
Zaman ini berlangsung pada awal abad 14 M sampai dengan abad 17 M. Renaissance sering diartikan denagn kebangkitan, peralihan, atau lahir kembali (rebirth), yaitu di lahirkan kembali sebagai manusia yang bebas untuk berpikir , dan jauh dari ajaran-ajaran agama.
5. Zaman modern
Terlihat jelas pada abad 17 M dan berlangsung hingga abad 20 M. Hal ini ditandai dengan ditandai dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmiah

Landasan penelahaan ilmu
 Landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :
1.      Landasan ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tia ilmu harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karna diversivikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda.
2.      Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum metode ilmiah pada dasarnya untuk semua disiplin ilmuyaitu berupa proses kegiatan induksi-deduksi-verifikasi seperti telah diuraikan di atas.
3.      Landasan aksiologi adalah hubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Denganperkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu dalam meningkakan kualitas hidup manusia.
Ontologi Ilmu

Sarana berpikir ilmiah
Kegiatan berfikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berfikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah – langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi hipotesis, menarik kesimpulan. Kesemua langkah – langkah berfikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat / sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari berfikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Ditinjau dari pola berfikirnya, maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif .Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik.






Rabu, 28 Oktober 2015

fokus filsafat lmu pengetahuan



a)  Fokus filsafat ilmu pengetahuan
Fokus filsafat ilmu pengetahuan adalah masalah metode ilmu pengethauan. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari dengan serius proses logis dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan.
       Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seorang kopernikus, suatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begiti juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh akan budi manusia yang terbuka pada realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.
       Tak pernah ada imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduannya akan berjalan bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam masyarakat. Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan pelu mengarahkan diri selain kepada pembicaraan tentang masalah metode ilmu pengetahuan juga harus berbicara tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Implikasi sosial dan etis dari ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik yang dibicarakan disini antara lain adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dengan life-world, antara ilmu pengetahuan dan politik, bagaimana harus membangun ilmu pengetahuan dalam masyarakat.


b) Manfaat belajar filsafat ilmu pengetahuan
Pertama, membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa dituntut untuk tetap kritis terhadap berbagai macam teori dan pengetahuan ilmiah yang diperoleh baik di ruang kuliah maupun dari berbagai sumber yang dapat diperolehnya. Kedua, bagi calon ilmuwan dengan memperkenalkan mereka dengan metode ilmu pengetahuan yang kiranya sangat berguna bagi mereka dalam mencari ilmu pengetahuan, khususnya dalam melakukan penelitian ilmiah. Ketiga, lebih praktis sifatnya, yaitu membantu kerja mahasiswa tersebut kelak dikemudian hari.yang dibutuhkan dari seseorang yang professional dalam bidang pekerjaannya adalah pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah, dimana masalahnya, seberapa besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana mengatasinya. Keempat, adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Jadi, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia, melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya. 

Manfaat belajar filsafat ilmu pengetahuan yaitu :
1. Dengan berfilsafat, seseorang akan lebih menjadi manusia, karena terus melakukan perenungan akan menganalisa hakikat jasmani dan hakikat rohani manusia dalam kehidupan di dunia agar bertindak bijaksana;
2. Dengan berfilsafat seseorang dapat memaknai makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun social;
3. Kebiasaan menganalisisi segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan objektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraih kualitas, keunggulan;
4. Dengan berfilsafat manusia selalu dilatih, dididik untuk berfikir secara universal, multidimensional, komprehensif, dan mendalam;
5. Belajar filsafat akan melatih seseorang untuk mampu meningkatkan kualitas berfikir secara mandiri keberagaman dan keunggulan orang lain;
6. Belajar filsafat akan memberikan dasar-dasar semua bidang kajian pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis atau pemahaman atas hakikat kesatuan semua pengetahuan dan kehidupan manusia lebih dipimpin oleh pengetahuan yang baik.

Senin, 26 Oktober 2015

MAKALAH AGAMA



TUGAS MATA KULIAH AGAMA
MENDIDIK DAN MEMBINA KELUARGA MENURUT QS AS-SYUARA : 214
poltekkes2.jpg
O
L
E
H
NAMA : UCI WIDIA
NIM :

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
PRODI DIV KEBIDANAN
TAHUN 2015

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai .Makalah ini berisi tentang penjelasan mendidik dan membina keluarga menurut QS As-Syuaro : 214
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

            Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                      
                                                                        Palembang,12 Oktober 2015

                  
                                                                                    Penulis














DAFTAR ISI
Halaman judul..................................................................1
Kata pengantar.................................................................2
Daftar Isi..........................................................................3
Bab I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang..............................................4
1.2  Rumusan masalah..........................................4
1.3  Tujuan............................................................4
Bab II Pembahasan..........................................................5
Bab III Penutup
            3.1 Kesimpulan....................................................25
            3.2 Saran..............................................................25
Daftar Pustaka.................................................................26















BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah swt telah memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia memberi peringatan kepada keluarga dan sanak kerabatnya kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorangpun yang berprasangka jelek kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya.
Dalam makalah ini akan sedikit membahas terkait dengan objek pendidikan berdasarkan Al-Qur’an, yang terkandung dalam QS. At- Tahrim Ayat 6, Asy-Syu’araa Ayat 214, dan At-Taubah ayat 122 .
1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana penjelasan mendidik dan mebina keluarga menurut QS As-syuara : 214
2.      Bagaimana cara mendidik keluarga?
3.      Apa kandungan surah As-syuara : 214 ?
4.      Mendidik dan membina keluarga menurut QS. Thaha: 132?
5.      Apa saja hadist yang mendukung tentang membina dan mendidik keluarga?

 
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui tentang membina dan mendidik keluarga menurut QS As-syuara:214
2.      Untuk mengetahui kandungan surah As-syuara :214
3.      Untuk menyelesai kan tugas pendidikan agama
4.      Untuk mengetahui hadist yang mendukung tentang membina dan mendidik keluarga
5.      Untuk mengetahui penjelasan mendidik dan membina keluarga menurut QS. Thaha: 132


BAB II
PEMBAHASAN
   QS Asy Syu’ara ayat 214
 وَاَنْذِرْعَشِيْرَتَكَ الاَقْرَبِيْنَ. 
Arti kata:
ا نذر
berilah peringatan
عشير
anggota suku yang terdekat
 الأ قربين
orang-orang yang dekat dari mereka yang terdekat.


“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat(QS Ay Syu’ara: 214)
            Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS At Tahrim:6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaanya adalah tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
            “Aq Alrobin” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib, lalu Nabi SAW memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan. Demikianlah menurut keterangan Hadits yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim
            Namun hal tersebut berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Mutholib, tetapi juga untuk seluruh umat islam, karena dilihat dari munasabah ayat, selanjutnya terdapat ayat ke 215:” Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh umat islam”[7].
            At Thobari meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi menyampaikan pesan suci yang diterimanya kepada seluruh kerabat dan keluarga terdekatnya. Sementara Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi langsung mengumpulkan anak dan kerabat seraya manyampaikan pesan:
لا املك لك شيئا من الله, سلونى من مالى ما شئتم
Saya tidak mempunyai wewenang tanggung jawab sama sekali terhadap kalian dari siksaan Allah, kala masalah harta silahkan minta apa yang saya punya semau kalian.
            Sementara Al Bukhori meriwayatkan bahwa ketika ayat tersebut turun Nabi langsung menuju dan naik bukit shofa seraya mengumpulkan sanak kerabat dan sahabatnya. Beliau menyeru kapada seluruh kerabat besarnya, yang isi seruannya adalah:
انّى نذيْرٌ لكم بين يدى من عدابٍ شديدٍ
Dan seruan tersebut dengan sepontan ditanggapi dan disahuti oleh paman-paman Nabi, Abu Lahab, dengan sanggahan:
تبّا لك يائر اليوم امادعوتنا الاّ لهذا؟
Ketika itu pula Allah menjawab sanggahan Abu Lahab tersebut dengan menurunkan Q.S Al Lahab.
Dari ayat diatas, jika dilihat dari perspektif tanggung jawab pendidikan atau dakwah, maka dapat disederhanakan menjadi beberapa poin penting diantaranya adalah[8]:
  1. Jika ayat yang pertama diatas direlasikan dengan ayat yang sebelumnya yaitu:
فلا تدعو مع اللهِ الهاً اخر فتكونَ من الْمُعذَّبينَ
Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang lain disamping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di azab.(Qs. Al Su’ara: 213)
Maka, dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada Rosul untuk meningkatkan keikhlasannya. Padahal secara rasional perintah tersebut tidaklah tepat sasarannya. Oleh karena itu, hakikat yang dituju dari sesuatu tersebut adalah ummat Muhammad. Karena salah satu sikap etis al-Qur’an jika ingin menyampaikan pesan kepada umat, khitobnya terlebih dahulu ditujukan kepada pemimpinnya. Maka jika ayat tersebut formalnya adalah Rosul, maka ayat yang berikutnya khitob untuk ummat dan kerabatnya.
  1. Gaya retorik tersebut memberikan isyarat bahwa dalam pandangan al-Qur’an tanggungjawab pendidikan bukan hanya terbatas pada wilayah kekuasaan, baik formal maupun non formal, tetapi juga konsistensi antara apa yang disampaikan dengan kondisi perilaku yang menyampaikan. Oleh karena itu, sebelum segala sesuatunya, pendidik harus terlebih dahulu mampu memberi qudwah hasanah kepada peserta didiknya.
  2. Kata idzar yang direlasikan dengan kata ‘asyir dan kata aqrab, menunjukkan bahwa hubungan kedekatan, kekerabatan, kekeluargaan, serta nashab dalam pendidikan, jangan sampai disalah gunakan sebagai factor peningkatan kwalitas peserta didik yang menafikan proses dan hukum sebab akibat.
  3. Dalam pendidikan, keseriusan dalam menyampaikan suatu masalah tidaklah menghalangi untuk bersikap ramah dan lemah lembut, serta senantiasa menghindari sikap emosional. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam lanjutan ayat
واخفض جنا حك لمن اتّبعك من المؤمنين
  1. Ayat 214 menunjukkan bahwa dalam pendidikan harus bersikap adil, dimana setiap peserta didik mempunyai hak yang sama dari pendidik. Adapun peringatan nabi kepada keluarganya pada ayat diatas hanyalah merupakan sikap etis (birr) terhadap sanak kerabatnya yang tidak berhenti dan menghalangi untuk berbuat baik kepada orang lain.
  2. Dalam menyampaikan sebuah pesan kepada peserta didik, jika segala upaya dan cara telah ditempuh, ternyata belum menghasilkan apa yang diharapkan oleh pendidik, maka pendidik harus sadar bahwa hasil tersebut bukan hak veto manusia, melainkan adalah hak prerogatif Allah. Oleh karena itu, segala sesuatunya harus dikembalikan kepada yang Maha Kuasa.
  Dalam Qs Asy Syu’ara ayat 214, menunjukkan bahwa yang menjadi objek pendidikan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat kepada adzab Allah SWT.
Tafsir Ibnu Katsir
Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala,  قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا  “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid (Sufyan As-Sauri mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari Mujahid, hal itu sudah cukup bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan Qatadah mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.
Tafsir dari Departemen Agama Pemerintah Indonesia
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.
Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT.
Darisurah at-taha dan as-syuara, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :
1.       Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.
2.       Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
3.       Bekal ‘ilmu adalah yang utama
4.      Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari api  neraka.
5.      Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari keluarga    sampai teman-teman dekat.
6.      Kesabaran memegang peranan penting

            Janji Allah SWT terhadap orang-orang yang berani dan mau menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebaikan secara terang-terangan, adalah pemeliharaan dan penjagaan dari Allah SWT seperti firmanNya:
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)." (QS Al Hijr [15]:94-95).
Maka dari itu, janganlah takut, bila kita telah mengamalkan perintah Allah dan merasakan nikmatnya maka wajiblah kita untuk menyampaikan kebenaran itu dan mengajak orang lain yang belum melaksanakan perintah Allah itu.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang Istiqamah di jalanNya dan menjadikan kita pembela agamaNya. Amin.

Bagi ibnu asyur surah as-syuara tertuju kepada nabi Muhammad SAW. Ia adalah uraian khusus setelah ayat sebelumnya merupakan uraian umum menyangkut siapa saja. Demikian tulisnya.
Kata ( عشير ه) à anggota suku yang terdekat, diambil dari kata ( عا شر) à saling bergaul karena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah orang2 yang sehari2 bergaul.
Kata ( الأ قربين ) à yang menyifati kata (عشير ه) merupakan penekanan sekaligus guna mengambil hati mereka sebagai orang-orang yang dekat dari mereka yang terdekat.
Setelah memerintahkan nabi muhammad SAW. Menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat diatas berpesan lagi kepada beliau bahwa:  hindarilah segala hal yang dapat mengundang murka allah dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih[1][5] dan Takut takutilah kerabatmu yang terdekat dengan azab dan siksa allah yang keras bagi orang yang kafir kepadanya dan yang menyekutukan-Nya dengan yang lain.[2][6]
Seruan rasulullah agar berhati-hati dengan syirik. Allah memerintahkannya untuk mengingatkan kerabatnya yang dekat agar bertawakkal kepada allah yang selalu memperhatikan dan menjaganya. Ketika rasulullah termasuk dalam orang-orang yang diancam akan adzab bersama orang-orang yang mendustakan, bila beliau ikut pula menyeru tuhan lain selain allah, itu hanyalah hipotesis untuk mendekatkan pemahaman. Kalau rasulullah saja termasuk orang-orang yang diancam, lantas bagaimana dengan orang-orang lainnya. Disini menunjukkan bahwa tuha tidak pilih kasih sama sekali.
Setelah rasulullah memperingatkan diri sendiri, beliau diperintahkan untuk mengingatkan kekeluarganya, agar selain mereka mendapat pelajaran darinya bahwa merekapun sesungguhnya terancam denga adzab bila ttap berada dalam kemusyrikan dan tidak mau beriman.[3][7]
Begitu juga ayat ini menyuruh supaya dipertakuti dengan siksa dan hukuman karib kerabatmu sendiri dan tidak akan terlepas dari hukuman dan siksaan itu, meskipun anakmu, bapakmu, ibumu, saudaramu, dsb. Semuanya itu dihukum bila bersalah dan berdosa. Maka tidak ada familisme dan kawanisme dalam islam. Melainkan semuanya itu tunduk kepada hukum yang satu dengan tiada memandang bulu. Inilah keadilan yang mutlak dalam islam. Dengan keadilan semacam inilah kaum muslimin dahulu kala memerintahi dunia. Begitu juga allah menyeru nabi supaya jangan berlaku sombong terhadap orang-orang mukmin yang menjadi pengikutnya. Hal ini patut ditiru oleh kepala-kepala dan pemimpin-pemimpin.[4][8]
Demikian ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan ummatnya agar tidak mengenal pilih kasih/ memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti nabi dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW. karena semua adalah hamba allah, tidak ada perbedaan antara keluarga / orang lain. bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak mulia.[5][9]
Pemberian peringatan yang khusus ini adalah sebagian dari pemberian peringatan umum yang untuk itu rasulullah SAW diutus, sbgai firman :

ولتنذ را م القرى ومن حو لها
“ Dan agar kamu memberi peringatan kepada penduduk makkah dan orang orang yang berada diluar lingkungannya” (an’am, 6:92)

لتبشربه المتقين وتنذربه قوما لدا
“… agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa dan agar kamu member peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang”.
Didalam hadist dan ayat tersebut terdapat dalil bahwa kedekatan dalam nasab tidak bermanfaat jika jalan yang ditempuh berbeda. Juga terdapat dalil atas pembolehan orang mu’min mengadakan hubugan dengan orang kafir, serta memberinya petunjuk dan nasehat, berdasarkan sabda rasul: “sesungguhnya kalian mempunyai rahim dan aku membasahinya dengan basahnya”.[6][10]

b.      Asbabun Nuzul
Ketika ayat ke 214 diturunkan, maka rasulullah memulai dakwahnya kepada keluarga serumah, kemudian baru keluarga yang terdekat. Hal ini menyinggung perasaan kaum muslimin, mereka merasa terabaikan. Sehubungan dengan hal itu, maka allah SWT. Menurunkan ayat 215 sebagai perintah untuk memperhatikan kaum muslimin yang lain. (HR.Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij).[7][11]

﴿ روي البخاري ومسلم أنه لما نزلت هذه الايۃ أتي النبي صلى الله عليه وسلم الصفا فصعد عليه ثم نادي : يا صاحباه ! فاجتمع الناس إليه بين رجل يجيء اليه وبين ﺭجل يبعث رسوله. فقال رسول الله صلى ألله عليه وسلم: يا بني لؤي أرآيتم لوأخبرتكم أن خيلا بسفح الجبل تريدأن تغير عليكم أصدقتموني؟ قالوا: نعم. قال "فائني نذيرلكم بين يدي عذاب شديد" فقال أبولهب: تبالك ساءر اليوم! أما دعوتنا إلا لهذا؟ وأنزل الله: تبت يداأبي لهب وتب... ﴾[8][12]

Ketika allah SWT menurunkan ayat ke 214 maka rasulullah naik kegunung shafa, seraya mengundang: “wahai saudaraku!” sedang beberapa saat berkumpul umat manusia. Beliau bersabda: wahai bani abdul muthalib, bani fikr, bani luayi, adalah kamu sekalian membenarkan manakala aku mengatakan bahwa unta dipegununan ini akan mengubah nasibmu? Jawab “ ya, percaya”. Rasulullah kemudian bersabda lagi: ”maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagimu. Dan bila kamu membangkang maka dihadapku ada siksa yang pedih”. Mendengar sabda nabi ini abu lahab langsung tampil berbicara : celaka kamu Muhammad pada hari ini. Adakah kamu sengaja mengumpulkan kami hanya untuk mendengar ocehanmu itu. Maka allah SWT. Menurunkan ayat-ayat yang terkandung dalam surat al-lahab. Ketika ayat ini turun, Rasul SAW naik ke puncak bukit Shafa, di Mekah, lalu menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar 'Ady dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim utusan. Abu Lahab pun datang, Ialu Nabi SAW bersabda: "bagaimana pendapat kalian, jika aku berkata bahwa:di belakang lembah ini ada pasukan berkuda bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?" mereka berkata: "Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran". Lalu Nabi bersabda: "Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih". Abu Lahab yang mendengar sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi SAW berkata: "celakalah engkau sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan kami? Maka turunlah surah Tabbat Yada Abi Lahab" (HR.Bukhori, Muslim, ahmad, dan lain-lain melalui ibn abbas(. Demikianlah ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan.Ini berarti Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW, karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang mulia.

(HR. Ahmad dari Ibnu Abbas Imam Bukhari Muslim Tirmidzi & Nasa’i meriwayatkan dari A’masy).[9][13]

﴿ وأخرج مسلم بإسناده عن عائشة رضي الله عنها قالت: لما نزلت: " وا نذر عشيرتك الأقربين. قام رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا فاطمةابنة محمد وياصفية ابنةعبد المطلب. يابني عبدالمطلب لاأملك لكم من الله شيئا سلوني من مالي ماشئتم ﴾[10][14]

 Ketika ayat ke 214 diturunkan, maka rasulullah SAW. Langsung berdiri seraya berkata: “wahai Fatimah binti muhammad, shafiyah binti abdul muthalib, bani abdul muthalib, aku tidak memiliki sesuatu apapun dihadapan allah yang dapat menyelamatkanmu. Ambillah hartaku sekehendak hatimu.”

Ketika ayat ke 214 diturunkan, rasulullah segera berdakwah kepada keluarga dengan mengatakan :”wahai orang-orang  quraisy selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai orang-orang  bani hasyim selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai orang-orang  bani muthalib selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Fatimah binti muhammad selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab dihadapan allah aku tidak memiliki apa-apa kecuali dengan kamu hanyalah ikatan keluarga belaka. (HR. ahmad dari abu hurairah imam muslim dan tirmidzi meriwayatkan pula dari abdul malik bin umar).
Pada suatu waktu abu darda berkhutbah dihadapan umat manusia sedangkan anaknya berada disisinya sedangkan kaum keluarganya berada dimasjid sambil bercanda ria. Maka ada seseorang yang mengajukan pertanyaan kepada abu darda bagaimana keadaan manusia yang mencintai ilmu berada disisimu, sementara sanak kerabatmu sendiri bercanda ria? Jawabannya : aku pernah mendengar rasulullah bersabda:” orang yang paling zuhud didunia adalah nabi, dan orang yang paling menentang nabi adalah sanak keluarga.” sehubungan dengan itu maka allah menurunkan ayat ke 214-220 sebagai perintah membina keluarga dan masyarakat dan bila mereka mendurhakai ajaran agama maka itu diluar tanggungjawab rasulullah. (HRibnu asakir dari amrin bin samarrah dari Muhammad bin saaqah dari abdul wahid binti abu bakar as shidiq).[11][17]
Hadist-hadist menerangkan bagaimana rasulullah menyambut seruan itu dan bagaimana beliau berusaha menyampaikannya kepada kerabatnya yang terdekat. Beliau tidak dapat berbuat apa-apa dalam pembelaan terhadap urusan mereka, dan hanya dapat menyandarkan kepada allah seluruh urusan akhirat mereka. Rasulullah menjelaskan bahwa hubungan kerabat tidak bermanfaat sekali bila tidak diikuti dengan ikut serta dalam amal shaleh. Dijelaskan beliau tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka dari adzab allah, pada hal beliau adalah rasul allah. Inilah islam dan dalam kejelasan dan kemurniannya. Dan ia meniadakan perantara antara hamba dan allah bahkan perantara seorang rasul-nya sekalipun.
Demikianlah allah menerangkan kepada rasul –nya bagaimana seharusnya beliau bermu’amalah dengan orang-orang beriman yang menyambut dakwah yang dibawanya.[12][18]



ISI KANDUNGAN Q.S AS-SYU’ARO AYAT 214
Al-Quran Surat Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia seperti yang dijelaskan dalam hadits tadi. Selain itu Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan.
ayat As-syuaraa’ ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”
Di sini jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia. Selain itu Adapun dasar operasional pendidikan yang harus kita ketahui terdiri atas, Dasar historis, Dasar social, Dasar ekonomi, Dasar politik dan administrative, Dasar psikologis , Dasar filosofis. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga (orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan, hal ini menunjukkan orangtua mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka. Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim: 6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
”Al Aqrobyn” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Namun hal ini bukan berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Muthollib, tetapi juga untuk seluruh umat Islam. Jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh umat Islam.

Hadist Yang Berkenaan Dengan Surat Asy-Syu’ara Ayat 214

Dalam pendidikan dan pembelajaran, secara epistimologi menurut Islam dikenal tiga macam bentuk penelaahan.
Pertama Telaah atas sumber pokok ajaran islam yaitu AlQuran dan hadist, Kedua telaah hasil pemikiran dalam penelitian para ulama dan pakar, dan yang Ketiga adalah telaah atas bentuk perilaku ummat islam yang merupakan refleksi keyakinan terhadap ajaran yang disesuaikan dengan ruang dan waktu.
Dan disini saya akan menelaah tentang telaah sumber pokok ajaran islam yaitu AlQuran dan khususnya dalam pembahasan ini “OBJEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN Surat ASY-SYU’ARA AYAT 214”.
Setelah Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat 214 berpesan lagi kepada beliau bahwa : Hindarilah segala yang daoat mengundang murka ALLAH, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih. Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan hiburan ALLAH kepada nabi Muhammad yang telah dikecewakan oleh dikap kaumnya dalam menanggapi dakwah yang disampaikannya dengan mengatakan memang demikian sikap orang-orang musyrik itu terhadap dakwah yang disampaikan kepada mereka.pada ayat ini diterangkan bahwa Rosullulloh diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada kerabat-kerabatnya yang terdekat.
Selain itu ada juga ada beberapa hadist yang berkenaan dengan ayat mulia ini, beberapa hadist-hadistnya diantaranya adalah :
1. Hadist pertama: Imam ahmad meriwayatkan bahwa ibnu abbas berkata “Ketika allah menurunkan ayat : وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” Nabi Mendatangi bukit shafa lalu naik ke atasnya dan memanggil “Hai orang-Orang yang ada di pagi hari, lalu berhimpunlah banyak orang menuju beliau baik orang yang datang langsung atu mengutus seseorang,
maka Rasulullah bersabda: يابني عبد المطلب, يابني فهر يابني لؤي, ارايتم لواخبرتم ان حيلا بسفح هذا الحبل تريد ان تغير عليكم صدقتموني قالو:نعم. قال:فإني تذير لكم بين يدعذاب شديد. Ya bani abdul mutholib, ya bani fahr, ya bani lu-ay, apa pendapat kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian bahwa satu pasukan kuda yang ada dibalik gunung ini hendak menyerang kalian apakah mempercayaiku? Mereka menjawab”ya” beliaupun brsabda sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dihadapan robb yang memiliki adzab yang “pedih” . Lalu abu lahab berkata “celakalah sepanjang hari , apakah engkau memanggil kami hanya untuk ini? Lalu Allah turunkan "تبت يداابي لهب وتبت " Binasalah kedua tangan abu lahab dan sesunguhnya dia akan binasa. Q.S: Al-lahab:1, HR Al-Bukhari, Muslim, at-Thirmidzi dan an-Nasa’i.
2. Hadist kedua : Imam ahmad berkata bahwa Aisyah berkata tatkala turun ayat : وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Rasulullah memanggil orang-orang Quraish umum maupun secara khusus lalu beliau bersabda: يافاطمة بنت محمد ياصافية بنت عبد المطلب يا بني عبد المطلب لا املك لكم من الله شيئا سلوني من مالي ماشئتم “Ya Fathimah puteri Muhammad, ya Shafiyah puteri Abdul Muthalib ya bani Abdul Muthalib. Aku tidak dapat membela kalian sedikitpundari Allah .Mintalah kalian bagian hartaku apa yang kalian inginkan “(H.R Muslim).
3. Hadist ketiga : Imam Ahmad meriwayatkan bahwa abu hurairah berkata “tatkala turun ayat ini وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Rasulullah memanggil orang-orang Quraisy, baik secara umum maupun secara khusus,
lalu beliau bersabda: يا معشر قريش انفدوا انفسكم من النلر, يامعشر بني كعب انفدوا انفسكم من النار يامعشر بني عبد المطلب أنقد انفسكم من النار, يا فاطمة بنت محمد أن انقد نفسك من النار فإنيى والله لااملك لكم من الله شيئا إلاأن لكم رحماسأبلها ببلالها. “Hai orang-orang Quraiys, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai, Bani Ka’bah selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani hasyim selamatkanlah diri kaian dari api neraka. Hai bani abdul mutrholib selamatkanlah dari api neraka. Hai Fathimah puteri Muhammad selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Sesungguhnya aku demi nama Allah tidak dapat membela kalian sedikitpun dihadapan Allah kecuali kalian memiliki hubungan rahim yang akan memercikan basahnya “(diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dari Hadist abdul malik bin Umair dan AT-Tirmidzi berkata, Gharib dari jalur ini diriwayatkan oleh Nasa’I serta keduanya di tahrij didalam ash-Shahih dari hadist as-Zuhri.
4. Hadist keempat : Imam ahmad meriwayatkan bahwa ali berkata “tatkala turun ayat ini: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Nabi menghimpun keluarganya hingga mencapai 30 orang lalu mereka makan dan minum kemudian
nabi berkata kepada mereka: من يضمن عني ديني ومواعدي ويكون معي في الجنة ويكون خليفتي في اهلي فقال رجل "لم يسمه شريك " يارسول الله: انت كنت بحرا من قوم بهذا ثم قال "الآخر ثلاثا قال "فعرض ذلك علي اهل بيته, فقال علي"انا" Siapa yang dapat menanggung hutang dan perjanjianku dan ia akan bersamaku di dalam surge serta menjadi penggantiku , maka berkata seorang laki-laki yang tidak disebut namanya oleh syuraik “Hai Rasulullah Engkau adalah lautan siapakah yang mampu melaksanakan hal tersebut kemudian beliau mengatakan hal itu sebanyak tiga kali kepada yang lainya dan disodorkanya kepada saudaranya dan keluarganya, Maka Ali berkata”aku”.
Allah memerintahkan Nabi muhammada agar menyampaikan agama kepada kerabatnya, dan menyampaikan janji dan ancaman ALLAH terhadap orang-orang yang mengingkari dan menyekutukan-Nya. Diriwayatkan oleh al-bukhari, muslim, dan perawi lainnya dari Abu Hurairah bahwa ia berkata,”Tatkala ayat ini turun, rasullullah lalu memanggil orang-orang quraish untuk berkumpul di Bukit Safa.
Diantara mereka ada yang datang sendiri, dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah berkumpul lalu Rasullullah berkhutbah,”Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan member manfaat kepadamu. Wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api api neraka, maka sesunnguuhnya aku tidak mempunyai kesanngupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Hai Bani Qusai selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunya kesanggupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Ahi Baini Abdul manaf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan untuk member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu, ketahuilah aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja’.
Ayat ini diturunkan pada awal kedatangan Islam ketika Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwahnya.Beliau mula-mula diperintahkan ALLAH agar menyeru keluarganya yang terdekat.Setelah itu secarab berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya, dan akhirnya kepada seluruh manusia. Fitrah beragama merupakan potensi yang mempunyai kecendrungan untuk berkembang.Namun fitrah ini dipengaruhi oleh factor ekternal da internal.

 

 Menurut Al-Maraghi, pemberian peringatan dalam surat Asy-Syu’ara’: 214 di atas, sifatnya adalah pemberian peringatan secara khusus, dan ini merupakan bagian dari peringatan yang bersifat umum, yang untuk itulah Rasulullah s.a.w. diutus. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:[8]
“Dan agar kamu member peringatan kepada (penduduk) Ummul qura (Makkah) dan orang-orang yang berada di lingkungannya.” (QS. Al-An’am: 92)
Al-Maraghi juga menambahkan, bahwa kedekatan nasab atau keturunan tidak memberi manfaat sama sekali seandainya jalan keimanan yang ditempuh berbeda. Dalam kisah ayat di atas terdapat dalil pembolehan interaksi antara mukmin dan kafir, serta memberinya petunjuk dan nasehat.[9]

 

Hadits selanjutnya
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم : مَنْ دَعَا اِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلاجْرِ مِثْلُ اُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ  لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا اِلَى الضَّلالَةِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الاثْمِ مِثْلُ اَثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اَثَامِهِمْ شَيْئًا
a.      Terjemah Hadits
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : Rosulullah  SAW bersabda : Barang siapa yang hendak mengajak kepada kebaikan maka dia akan memperoleh pahala atas perbuatan baiknya itu serta pahala orang yang mengikuti dan melaksanakan kebaikan dengan tanpa dikurangi sedikit pun. Sebaliknya bagi siapa saja yang mengajak kesesatan atau kemungkaran, maka dia mendapat dosa sebagai balasan atas perbuatannya sendiri (ditambah) dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun. (HR Abu Dawud, Ahmad, Nasai, Turmudzi dan Ibnu Majah)

b.      Penjelasan Hadits
Nabi Muhammad saw menjelaskan kepada kita bahwa pahala orang berdakwah itu besar bukan saja pahala yang diberikan Allah atas perbuatan baiknya yang dilakukan sendiri, tetapi juga akan diberikan pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikuti perbuatan baik yang dianjurkan. Pahala ini diberikan oleh Allah hingga hari akhir tanpa dikurangi sedikit pun. Hal ini menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya yang dikaruniakan kepada orang-orang yang dikehendaki.
Sebaliknya, orang yang mengerjakan kejahatan dan kemudian dia menganjurkan atau mengajak orang lain untuk melakukan seperti yang dia lakukan, maka orang tersebut mendapatkan dosa atas perbuatan jahat yang dilakukan, maka orang tersebut mendapat dosa atas perbuatan jahat yang dia lakukan dan ditambah dosa sebanyak dosanya orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun sampai hari kiamat.
Ancaman Allah seperti ini sangat wajar sekalipun yang berbuat adalah orang lain, tetapi perbuatan itu terjadi dikarenakan ajakan atau anjuran. Bila tidak diajak atau dianjurkan, sangat mungkin orang lain tidak melakukannya. (DEPAG : 2002, hal 143-144)
Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya tentang ayat ini berkata,
"Wahai orang yang benar keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, 'Peliharalah diri kalian,' Hendaklah satu sama lain saling mengajarkan sesuatu yang membuat kalian dapat berlindung dan terhindar dari neraka, yaitu apabila mereka beramal dalam ketaatan kepada Allah. Sedangkan firman-Nya 'Dan (lindungi) keluarga kalian dari neraka.' Maksudnya adalah ajarkan keluarga kalian amal ketaatan kepada Allah yang dapat melindungi mereka dari api neraka.
(Tafsir Ath-Thabari, 28/165)
Al-Qurthubi berkata,
"Muqatil berkata, ini merupakan hak yang menjadi kewajiban terhadap dirinya, anaknya, keluarganya dan budaknya. Ilkia berkata, 'Kita wajib mengajakan agama dan kebaikan terhadap anak-anak kita, atau adab apa saja yang tidak dapat mereka tinggalkan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وأْمُر أهلك بالصلاة واصطبر عليها (سورة طه: 132)
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)
Juga terdapat dalam hadits
مروهم بالصلاة وهم أبناء سبع
"Perintahkan mereka (anak-anak kalian) untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh tahun."
(Tafsir Al-Qurthubi, 18/196)
Seorang muslim, siapapun dia, adalah orang yang mengajak kepada jalan Allah Ta'ala, maka jadikanlah orang yang pertama mendapatkan dakwahnya adalah anak-anak dan keluarganya, kemudian orang-orang berikutnya. Allah Ta'ala, saat menugaskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdakwah, Dia berfirman kepadanya, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," (QS. Asy-Syuara: 214), karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih sayangnya.

وجعل الرسول صلى الله عليه وسلم مسؤولية رعاية الأولاد على الوالدين وطالبهم بذلك :
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menjadikan perawatan anak sebagai tanggung jawab orang tua dan menuntut mereka untuk itu.
Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته الإمام راع ومسئول عن رعيته والرجل راع في أهله وهو مسئول عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها والخادم راع في مال سيده ومسئول عن رعيته قال وحسبت أن قد قال والرجل راع في مال أبيه ومسئول عن رعيته وكلكم راع ومسئول عن رعيته " . رواه البخاري ( 853 ) ومسلم ( 1829 )
"Semua kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Kepala negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang bapak pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Pembantu pemimpin terhadap harta masjiannya dan akan ditanya akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah mengatakan, seseorang peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya" (HR. Bukhari, no. 853, Muslim, 1829)
Di antara kewajiban anda menumbuhkan sejak dini kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta mencintai ajaran Islam. Hendaknya anda kabarkan bahwa Allah memiliki neraka dan surga. Neraka Allah sangat panas, bahan bakarnya dari manusia dan batu.
Dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" علقوا السوط حيث يراه أهل البيت ، فإنه أدب لهم " . رواه الطبراني ( 10 / 248 ) . والحديث : حسّن إسنادَه الهيثمي في " مجمع الزوائد " ( 8 / 106 ) .
"Gantungkan pecut di tempat yang dapat dilihat keluarga, karena itu merupakan pendidik bagi mereka." (HR. Thabrani, 10/248)
Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma Zawaid (8/106) Al-Albany menyatakan dalam shahih Al-Jami, no. 4022, hadits ini hasan.
Pendidikan anak hendaknya berimbang antara anjuran dan peringatan. Yang lebih penting dari itu semua adalah memperbaiki lingkungan tempat anak tinggal dengan mewujudkan sebab-sebab hidayah bagi mereka, yaitu dengan komitmennya pendidik dan pengasuh mereka yang tak lain adalah kedua orang tua mereka.
Tetang surah An-Nisa Ayat 3
1.    Surat An-Nisa [4] Ayat 3
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا(3)

2.     Terjemah Surat An-Nisa [4] Ayat 3
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: )

3.    Penafsiran Kata-kata Surat An-Nisa [4] Ayat 3
تُقْسِطُوا
Berbuat adil
فَانْكِحُوا
Maka nikahilah
مَا طَابَ
Apa yang dihalalkan
مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
Dua-dua atau tiga-tiga atau empat-empat
أَدْنَى
Lebih dekat
تَعُولُوا
Durhaka dan berbuat aniaya


4.    Penjelasan Tafsili Surat An-Nisa 3
Keluarga adalah unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat di mana hubungan yang terdapat di dalamnya, sebagian besarnya, bersifat hubungan-hubungan langsung. Dalam keluarga itulah berkembang individu dan terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan, dan melalui interaksi dengannya anak memperleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi, dan sikapnya dalam hidup dan dengan itu ia memperoleh keterampilan dan ketenangan.
Pembentukan keluarga dalam Islam bermula dengan terciptanya hubungan suci yang menjalin seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui pernikahan yang halal, memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat syahnya. Oleh sebab itu kedua suami istri itu merupakan dua unsur utama dalam keluarga. Dengan kata lain keluarga adalah perkumpulan yang halal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat terus menerus dimana yang satu merasa tenteram dengan yang lain sesuai dengan yang ditentukan oleh agama dan masyarakat.
Ketika suami istri dikarunia seorang anak atau lebih, maka anak-anak itu menjadi unsur utama ketiga pada keluarga tersebut di samping dua unsur sebelumnya. Masing-masing unsur yang tiga ini, yaitu suami istri dan anak mempunyai peranan penting dalam membina dan menegakkan keluarga, sehingga kalau salah satu unsur itu hilang, maka keluarga menjadi goncang dan keluarga kehilangan keseimbangan. Jika keluarga kehilangan unsur pertama, yaitu suami atau bapak, maka keluarga itu kehilangan tongkat utamanya yaitu pencari rezekinya, di samping unsur kekuasaan, pimpinan, jaminan, tauladan yang baik dan sumber terpenting dalam bimbingan dan pendidikan. Kalau unsur kedua yaitu isteri atau si ibu, maka keluarga kehilangan sumber utama bagi ketentraman, ketenangan, kasih sayang, yang harus wujud pada setiap keluarga. Yang paling banyak menerima hilangnya istri adalah anak-anaknya, terutama kalau mereka masih kecil. Begitu juga kalau unsur ketiga hilang, yaitu anak-anak, keluarga yang demikian tidak menikmati kebahagiaan sebesar-besarnya dalam dunia ini, sebagaimana ia selalu terancam oleh kegoncangan hidup yang kadang-kadang dapat menghapus namanya sama sekali dari permukaan bumi ini.
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan atau mileu pertama bagi individu di mana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan mileu pertama itu individu memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar dari kepribadiannya. Juga dari situ ia memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan emosinya dan dengan itu ia merobah banyak kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan dan kesediaannya menjadi kenyataan.
Dalam surat An-Nisa ayat 3 dijelaskan bahwa apabila kamu merasa takut terhadap dirimu sendiri karena takut memakan harta istri yatim, maka janganlah kamu kawin dengannya. Karena sesungguhnya Allah telah memberikan kekuasaan terhadap kamu untuk tidak menikahi anak yatim, yaitu dengan menghalalkan kamu boleh nikah dengan wanita-wanita selain yatim, satu, dua, tiga atau empat.
Tetapi jika kamu merasa tidak akan bisa berbuat adil di antara dua orang istri-istri, maka kamu harus memegang satu istri saja. Perasaan takut tidak bisa berbuat adil bisa dirasakan dengan zan (kepastian) dan juga bisa dengan syak (ragu-ragu) terhadapnya. Laki-laki yang dibolehkan lebih dari satu hanyalah orang yang merasa yakin dirinya bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya nanti. Keyakinan dalam hal ini tidak boleh dicampuri dengan perasaan ragu-ragu.
Hendaknya kalian mencukupkan hanya dengan seorang istri dan wanita-wanita merdeka, dan bersenang-senanglah dengan wanita yang kamu sukai dari hamba-hamba wanita, karena tidak ada kewajiban berbuat adil diantara mereka. Tetapi mereka hanya berhak mencapat kecukupan nafkah, sesuai dengan standar yang berlaku dikalangan mereka. (Ahmad Mustofa Al-Maraghi, 1993: 234)
Berlaku adil dalam hal ini hanya selagi masih bisa dilakukan oleh kemampuan manusia, seperti memberi rumah yang sama, pakaian yang sama, dan sebagainya. Sedangkan hal yang di luar kemampuan manusia seperti kecenderungan hati manusia terhadap seorang istri, tidak terhadap istri-istri yang lain.
Oleh karena itu Rasullualh memerintahkan untuk menikah bagi mereka yang telah memiliki kesanggupan baik dzahir maupun batin, sebagaimana sabdanya:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya : Wahai golongan pemuda! siapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan yiaitu zahir dan batin untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin. Sesungguhnya perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka sesiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu dapat mengawal iaitu benteng nafsu (Al-Bayan, Hadits 809)
Beberapa keistimewaan poligami
Pada prinsipnya kebahagiaan berumah tangga bagi seorang suami hanya apabila mempunyai seorang istri saja, karena bentuk rumah tangga seperti itu adalah yang paling sempurna, yang seharusnya dipelihara oleh setiap individu dan diyakini. Tetapi memang ada beberapa kondisi yang dialami seseorang yang mendorongnya menyimpang dari ketentuan tersebut karena ada kemaslahatan-kemaslahatan penting yang berkait dengan kehidupan rumah tangganya, atau kemaslahatan umatnya. Sehingga poligami bagi dirinya tidak bisa diletakkan lagi: kondisi-kondisi tersebut ialah sebagai berikut:
a.       Bila seorang suami beristri seorang wanita mandul, sedang ia sangat mengharapkan anak. Termasuk kemaslahatan sang istri dan kemaslahatan mereka (suami istri), hendaknya suami menetapkan istri pertamanya, kemudian mengawini wanita lain. Terlebih lagi jika status sang suami sebagai seorang yang terpendang dan memiliki kekayaan, misalnya seorang raja atau amir.
Tentang pentingnya unsur anak ini sendiri banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menegaskan bagaimana tabiat manusia suka mempunyai anak sebagai salah satu perhisan hidup dan sumber kebahagiaan umat manusia jika anak-anak shaleh, firman Allah SWT, dalam surat 3 (Ali Imran) ayat 14, yaitu:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ (ال عمران: 14)
Artinya: “Dijadikan indah (pada pandangan) manusia kecintaan kepada yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, … ” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 77).
Dalam firman Allah SWT, surat 18 (Al-Kahfi) ayat 46, yaitu:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (الكهف: 46)

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi salah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 450).
b.      Bila istri telah tua, dan telah mencapai umur yai’sah (tidak haid) lagi, kemudian sang suami berkeinginan mempunyai anak, dan ia mampu memberikan nafkah kepada lebih dari seorang istri, mampu pula menjamin kebutuhan anak-anaknya termasuk pendidikan mereka.
c.       Bila sang suami tidak cukup hanya mempunyai seorang istri, demi terpeliharanya kehormatan diri (agar tidak zina) karena kapabilitas seksualnya memang mendorong untuk berpolgami, sedang sang istri kebalikannya. Atau karena masa haid sang istri, umpamanya terlalu panjang, sehingga memakan waktu sebagian besar dari bulannya. Sehingga kini posisi suami dihadapkan pada dua alternatif. Terkadang ia harus kawin lagi, atau terjerumus ke dalam perbuatan zina yang akibatnya menyia-nyiakan agama, harta benda, dan kesehatannya. Akibatnya lebih berbahaya bagi seorang istri disbanding jika sang suami memadunya dengan istri lain yang disertai keadilan sang suami terhadap semuanya, sebagaimana yang menjadi syarat dibolehkannya poligami dalam Islam.
d.      Bila dari hasil sensus kaum wanita lebih banyak dari kaum pria, dalam suatu negara, dengan perbandingan yang mencolok. Hal ini bisa terjadi setelah suatu negara bisa saja mengalami peperangan yang banyak menewaskan kaum pria. Dalam keadaan seperti itu tidak ada sarana lain bagi wanita dalam mencari kasab, kecuali hanya dengan menjual diri (kehormatannya) akibatnya jelas akan membuat wanita itu hidup sengsara, karena harus menjamin nafkah diri dan anak-anaknya yang telah kehilangan seorang ayah sebagai penanggung kebutuhan mereka. Terlebih lagi jika hal itu terjadi setelah melahirkan dan dalam masa penyusuan, sungguh mengharukan (Ahmad Mustofa Al-Maraghi, 1993: 326-327).
Berdasarkan keterangan di atas, jelas ada dua hal yang dapat ditarik kesimpulan. Pertama poligami tidak diperbolehkan manakala sorang suami tidak dapat berbuat adil terhada. Dan kedua poligagami diperbilehkan manakala keempat masalah di atas terjadi.
Pendidikan Keluarga
1.6.2.1 Pendidikan keluarga
1.6.2.1.1  Menurut Lunggalung Pendidikan keluarga adalah pendidikan dalam bentuk penwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak dimana tunggung jawab untuk mendidik anak ini merupakan tanggung jawab primer, karena anak merupakan buah dari kasih sayang yang diikat dalam tali perkawinan antara suami istri dalam suatu keluarga.[20]. Berlangsungnya pendidikan keluarga diharapkan anak mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa yang memiliki sifat positif pada agama, kepribadian yang kuat dan mandiri, potensi jasmani dan rohani serta intelektual yang berkembang secara optimal.
1.6.2.1.1  Menurut Khon. adalah sikaf orang tua dalam memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hukuman dan hadiah, cara orang tua memberikan otoritas dan cara orang tua perhatian dan tanggapan terhadap keinginan anak.[21] Dengan demikian dalam pendidikan ini bagaimana cara mendidik orang tua kepada anak baik secara langsung atau tidak langsung.
1.6.3   Keluarga
Keluarga : Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan.[22]
Dalam islam, keluaga dikenal dengan istilah Usrah, Nasl, ‘ali, dan Nasb. Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan, perkawinan, persusuan dan pemerdekaan.[23]
Definisi keluarga sangat bermacam – macam tergantung dari deminsi (sudut pandang)
Jauhi Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Penyebab kekerasan dalam rumah tangga yaitu sikap nusyuz suami istri. Dua upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, yaitu agar suami sebagai qawwam mampu melihat sisi baik pasangan, menasehati dan memperingatkan nusyuz istri dengan penuh kasih sayang. Upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga lainnya adalah sebagai berikut:
1.      Beri kewajiban nafkah terbaik
Harus diakui bahwa kewajiban nafkah memang berasal dari suami. Laki-laki itu sebagai pelindung bagi perempuan karena Allah telah memberikan kelebihan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka telah memberikan nafkah dan hartanya. (QS. An-Nisa 2:34), namun ini tidak serta merta suami dapat semena-mena kepada istri.
Seyogianya, suami yang bertakwa justru selalu berusaha mencukupi sekuat tenaga ekonomi keluarga, meliputi istri dan anak. Berusaha mencukupi pemberian sandang pangan dan papan yang terbaik yang dia mampu usahakan. Jangan sampai tega menyalurkan dana tanpa ada musyawarah, suka-suka sendiri mengatur keuangan, dengan maksud kikir, hitungan pada istri sendiri.
2.      Berkomunikasi
Setelah menikah kecenderungan berkomunikasi straight tothe point (langsung) tak jarang yang terbentuk adalah kalimat perintah, berita atau sekedar basa basi. Ini merupakan atmosfer yang tidak sehat yang mengarah pada kekerasan verbal dan nonverbal.
Wujud komunikasi yang terbaik secara nooverbal ungkapanbelaian cinta, kasih sayang, penuh perhatian, sikap lembut yang dibumbui dengan kata-kata verbal langsung penuh keikhlasan. Jangan heran jika banyak rumah tangga yang terasa hambar karena jarang dan irit kmunikasi. Komunikasi yang sehat dibangun berlandaskan kejujuran mengingatkan sebatas amar ma’ruf nahi mungkar. Selebihnya tawkal danmenyerahkan diri pada Allah SWT sebgai penggegaman hati makhluknya.

Cara Mendidik Anak

1.      Ajarkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Sejak Usia Dini

Umumnya orang tua memiliki rasa khawatir yang berlebihan pada anak. Maka jangan lagi terlalu berlebihan mengkhawatirkan anak serta over protektif. Belajarlah untuk mempercayai buah hati anda namun tetap memantau dari jauh tanpa pengekangan maupun melindungi kesalahan yang dilakukan. Ajarkan pada buah hati anda mengetahui benda-benda miliknya serta merapikanya setelah bermain. Ketika sudah masuk masa sekolah ajarkan mereka untuk mempersiapkan keperluanya, beri uang saku dengan diarahkan untuk disisihkan sebagai tabungan.

2. Ajarkan dan Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak

Pada usia anak-anak mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika melihal benda-benda atau sesuatu yang belum pernah dilihat dan pahami maka biasanya mereka akan bertanya.
3.Ajar kan dan tumbuh kan kemampuan berpendapat anak
4. Ajar kan dan tumbuh kan rasa rasional,bersimpati,empati,dll
5.Beri tauladan yang baik dan jadi lah contoh


















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Alquran Surat Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia. Selain itu Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan.  ayat As-syuaraa’ ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”(Q.S As-syuaraa’ ayat 214).
Di sini jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama.

  1. Saran
Dengan mempelajari tafsir selain bisa mengetahui apa itu tafsir, dan kita bisa mengetahui asbabun nuzul dari subuah ayat pendidikan agar nantinya peserta didik dapat menerapkan ajaran yang terkandung pada Surat as-syu’ara 214 dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kepada Allah SWT, kedua orang tua, serta kepada manusia-manusia yang lain.













DAFTAR PUSTAKA

Dedi(2013).Surah as-syuara ayat 214-2015.Diakses 23 April 2012,dari

Ivannes ( 2012 ). Ayat-ayat tentang Objek pendidikan.Diakses 11 April 2012,dari
33Namakunia(2012).Objek Pendidikan dalam alquran.Diakses 26 november 2012,dari
Sari Risna(2013).makalah Tafsir.Diakses 6 Juli 2013,dari
Sopiah Opih(2014).Tafsir Taebawi.Diakses 11 November 2014,dari

Mamiekzone(2013). Objek pendidikan Surah asy-Syu'ara: 214,Diakses 8 Februari 2013,dari

http://mamiekzone.blogspot.co.id/2013/02/objek-pendidikan-surah-asy-syuara-214_6086.html

Muthohar Ahmad Mifdlol (2013).objek pendidikan persepektif alquran.Diakses 26 januari 2013,dari

http://mifdlol.staff.iainsalatiga.ac.id/2013/01/26/objek-pendidikan-perspektif-al-quran/

Prianto Muhammad Heri( 2014).Kewajiban berdakwah.Diakses 22 Mei 2014,dari

            http://heribalkis.blogspot.co.id/2014/05/modul-al-quran-hadits.html

Almunajid muhammad soleh (2015).Bagaimana Mendidik Anak Menjadi Soleh.Diakses 10 oktober 2015,dari

            http://islamqa.info/id/10016

Rosadi imron(2013).konsep membina keluarga berdasar kan surat annisa ayat 3.Diakses 19 januari 2013,dari

https://gpaismkmucrb.wordpress.com/2013/01/19/konsep-membina-keluarga-berdasarkan-surat-an-nisa-4-ayat-3/



Paiton Pabian(2013).Pendidikan agama menurut Alquran surat luqman.Diakses 14 juli      2013,dari
Rowokele Kua(2012).Mendidik keluarga Untuk Membina Keluarga Sakinah.Diakses 2 Juni 2012,dari
Wadaw Suraz(2013).Surah As-syuara : 214.Diakses 18 September 2013,dari
http://surazwadaw.blogspot.co.id/