TUGAS MATA KULIAH AGAMA
MENDIDIK DAN MEMBINA KELUARGA MENURUT QS
AS-SYUARA : 214
O
L
E
H
NAMA : UCI WIDIA
NIM :
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
PRODI DIV KEBIDANAN
TAHUN 2015
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai .Makalah ini berisi tentang
penjelasan mendidik dan membina keluarga menurut QS As-Syuaro : 214
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Palembang,12
Oktober 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman judul..................................................................1
Kata
pengantar.................................................................2
Daftar Isi..........................................................................3
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..............................................4
1.2 Rumusan
masalah..........................................4
1.3 Tujuan............................................................4
Bab II
Pembahasan..........................................................5
Bab III Penutup
3.1
Kesimpulan....................................................25
3.2
Saran..............................................................25
Daftar
Pustaka.................................................................26
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam sebuah
pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang
sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah swt telah
memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini,
agar dia memberi peringatan kepada keluarga dan sanak kerabatnya kemudian
kepada seluruh umat manusia agar tidak seorangpun yang berprasangka jelek
kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya.
Dalam makalah ini
akan sedikit membahas terkait dengan objek pendidikan berdasarkan Al-Qur’an,
yang terkandung dalam QS. At- Tahrim Ayat 6, Asy-Syu’araa Ayat 214, dan
At-Taubah ayat 122 .
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
penjelasan mendidik dan mebina keluarga menurut QS As-syuara : 214
2.
Bagaimana
cara mendidik keluarga?
3.
Apa
kandungan surah As-syuara : 214 ?
4.
Mendidik
dan membina keluarga menurut QS. Thaha: 132?
5.
Apa
saja hadist yang mendukung tentang membina dan mendidik keluarga?
1.3 Tujuan
1.
Untuk
mengetahui tentang membina dan mendidik keluarga menurut QS As-syuara:214
2.
Untuk
mengetahui kandungan surah As-syuara :214
3.
Untuk
menyelesai kan tugas pendidikan agama
4.
Untuk
mengetahui hadist yang mendukung tentang membina dan mendidik keluarga
5.
Untuk
mengetahui penjelasan mendidik dan membina keluarga menurut QS. Thaha: 132
BAB II
PEMBAHASAN
QS Asy Syu’ara ayat 214
وَاَنْذِرْعَشِيْرَتَكَ الاَقْرَبِيْنَ.
Arti kata:
|
ا
نذر
|
berilah peringatan
|
|
عشير
|
anggota suku yang
terdekat
|
|
الأ قربين
|
orang-orang yang
dekat dari mereka yang terdekat.
|
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat(QS Ay Syu’ara: 214)
Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS At Tahrim:6) bahwa terdapat perintah langsung
dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaanya adalah tentang
objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
“Aq Alrobin” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib, lalu Nabi SAW
memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan. Demikianlah menurut
keterangan Hadits yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim
Namun hal tersebut berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan
Mutholib, tetapi juga untuk seluruh umat islam, karena dilihat dari munasabah
ayat, selanjutnya terdapat ayat ke 215:” Dan rendahkanlah dirimu terhadap
orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman jadi perintah ini
juga berlaku untuk seluruh umat islam”[7].
At Thobari meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi menyampaikan pesan
suci yang diterimanya kepada seluruh kerabat dan keluarga terdekatnya.
Sementara Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi langsung
mengumpulkan anak dan kerabat seraya manyampaikan pesan:
لا املك لك شيئا من الله, سلونى من مالى ما شئتم
Saya tidak mempunyai wewenang tanggung jawab sama
sekali terhadap kalian dari siksaan Allah, kala masalah harta silahkan minta
apa yang saya punya semau kalian.
Sementara Al Bukhori meriwayatkan bahwa ketika ayat tersebut turun Nabi
langsung menuju dan naik bukit shofa seraya mengumpulkan sanak kerabat dan
sahabatnya. Beliau menyeru kapada seluruh kerabat besarnya, yang isi seruannya
adalah:
انّى نذيْرٌ لكم بين يدى من عدابٍ شديدٍ
Dan seruan tersebut dengan sepontan ditanggapi dan
disahuti oleh paman-paman Nabi, Abu Lahab, dengan sanggahan:
تبّا لك يائر اليوم امادعوتنا الاّ لهذا؟
Ketika itu pula Allah menjawab sanggahan Abu Lahab
tersebut dengan menurunkan Q.S Al Lahab.
Dari ayat diatas, jika dilihat dari perspektif
tanggung jawab pendidikan atau dakwah, maka dapat disederhanakan menjadi
beberapa poin penting diantaranya adalah[8]:
- Jika
ayat yang pertama diatas direlasikan dengan ayat yang sebelumnya yaitu:
فلا تدعو مع اللهِ الهاً اخر فتكونَ من الْمُعذَّبينَ
Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang
lain disamping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di
azab.(Qs. Al Su’ara: 213)
Maka, dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada
Rosul untuk meningkatkan keikhlasannya. Padahal secara rasional perintah
tersebut tidaklah tepat sasarannya. Oleh karena itu, hakikat yang dituju dari
sesuatu tersebut adalah ummat Muhammad. Karena salah satu sikap etis al-Qur’an
jika ingin menyampaikan pesan kepada umat, khitobnya terlebih dahulu ditujukan
kepada pemimpinnya. Maka jika ayat tersebut formalnya adalah Rosul, maka ayat
yang berikutnya khitob untuk ummat dan kerabatnya.
- Gaya
retorik tersebut memberikan isyarat bahwa dalam pandangan al-Qur’an
tanggungjawab pendidikan bukan hanya terbatas pada wilayah kekuasaan, baik
formal maupun non formal, tetapi juga konsistensi antara apa yang
disampaikan dengan kondisi perilaku yang menyampaikan. Oleh karena itu,
sebelum segala sesuatunya, pendidik harus terlebih dahulu mampu memberi
qudwah hasanah kepada peserta didiknya.
- Kata
idzar yang direlasikan dengan kata ‘asyir dan kata aqrab, menunjukkan
bahwa hubungan kedekatan, kekerabatan, kekeluargaan, serta nashab dalam
pendidikan, jangan sampai disalah gunakan sebagai factor peningkatan
kwalitas peserta didik yang menafikan proses dan hukum sebab akibat.
- Dalam
pendidikan, keseriusan dalam menyampaikan suatu masalah tidaklah
menghalangi untuk bersikap ramah dan lemah lembut, serta senantiasa
menghindari sikap emosional. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam
lanjutan ayat
واخفض جنا حك لمن اتّبعك من المؤمنين
- Ayat
214 menunjukkan bahwa dalam pendidikan harus bersikap adil, dimana setiap
peserta didik mempunyai hak yang sama dari pendidik. Adapun peringatan
nabi kepada keluarganya pada ayat diatas hanyalah merupakan sikap etis
(birr) terhadap sanak kerabatnya yang tidak berhenti dan menghalangi untuk
berbuat baik kepada orang lain.
- Dalam
menyampaikan sebuah pesan kepada peserta didik, jika segala upaya dan cara
telah ditempuh, ternyata belum menghasilkan apa yang diharapkan oleh
pendidik, maka pendidik harus sadar bahwa hasil tersebut bukan hak veto
manusia, melainkan adalah hak prerogatif Allah. Oleh karena itu, segala
sesuatunya harus dikembalikan kepada yang Maha Kuasa.
Dalam Qs Asy Syu’ara ayat 214, menunjukkan
bahwa yang menjadi objek pendidikan adalah kerabat terdekat dari kita dan
orang-orang yang dekat kepada adzab Allah SWT.
Tafsir Ibnu Katsir
Mengenai
firman Allah subhanahu wa ta’ala, قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid (Sufyan As-Sauri
mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari Mujahid, hal itu sudah
cukup bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada
keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan Qatadah mengemukakan :
“Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah
mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah
kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu
mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada
Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian
itu pula yang dikemukakan oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana
mereka mengatakan : “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk
kerabat dan budaknya, berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan
Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.
Tafsir dari Departemen Agama Pemerintah Indonesia
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada
orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan
supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari
manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan
mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah
untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.
Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan salat
dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT.
Darisurah
at-taha dan as-syuara, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita
jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :
1.
Niat yang lurus, semata-mata demi meraih ridha Allah subhanahu wa
ta’ala, melaksanakan syari’ah islam dan melaksanakan da’wah.
2.
Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.
3.
Bekal ‘ilmu adalah yang utama
4.
Taqwa adalah kunci dalam memelihara diri kita sendiri dan keluarga kita dari
api neraka.
5.
Proses pembinaan selanjutnya dimulai dari orang-orang dekat, dimulai dari
keluarga sampai teman-teman dekat.
6.
Kesabaran memegang peranan penting
Janji
Allah SWT terhadap orang-orang yang berani dan mau menyampaikan kebenaran
serta mengajak orang lain pada kebaikan secara terang-terangan, adalah
pemeliharaan dan penjagaan dari Allah SWT seperti firmanNya:
"Maka
sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami
memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan
(kamu)." (QS Al Hijr [15]:94-95).
Maka dari itu, janganlah takut, bila kita telah mengamalkan
perintah Allah dan merasakan nikmatnya maka wajiblah kita untuk menyampaikan
kebenaran itu dan mengajak orang lain yang belum melaksanakan perintah Allah
itu.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang Istiqamah di
jalanNya dan menjadikan kita pembela agamaNya. Amin.
Bagi ibnu asyur surah
as-syuara tertuju kepada nabi Muhammad SAW. Ia adalah uraian khusus setelah ayat
sebelumnya merupakan uraian umum menyangkut siapa saja. Demikian tulisnya.
Kata ( عشير ه) à anggota suku yang terdekat, diambil dari kata ( عا شر) à saling bergaul karena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah orang2 yang sehari2 bergaul.
Kata ( الأ قربين )
à yang menyifati kata
(عشير ه)
merupakan penekanan sekaligus guna mengambil hati mereka sebagai orang-orang
yang dekat dari mereka yang terdekat.
Setelah memerintahkan nabi muhammad SAW. Menghindari
kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh
kemusyrikan, kini ayat diatas berpesan lagi kepada beliau bahwa: hindarilah
segala hal yang dapat mengundang murka allah dan berilah peringatan kepada
kerabat kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih[1][5] dan Takut takutilah kerabatmu yang terdekat dengan
azab dan siksa allah yang keras bagi orang yang kafir kepadanya dan yang
menyekutukan-Nya dengan yang lain.[2][6]
Seruan rasulullah agar berhati-hati dengan syirik.
Allah memerintahkannya untuk mengingatkan kerabatnya yang dekat agar
bertawakkal kepada allah yang selalu memperhatikan dan menjaganya. Ketika rasulullah
termasuk dalam orang-orang yang diancam akan adzab bersama orang-orang yang
mendustakan, bila beliau ikut pula menyeru tuhan lain selain allah, itu
hanyalah hipotesis untuk mendekatkan pemahaman. Kalau rasulullah saja termasuk
orang-orang yang diancam, lantas bagaimana dengan orang-orang lainnya. Disini
menunjukkan bahwa tuha tidak pilih kasih sama sekali.
Setelah rasulullah memperingatkan diri sendiri, beliau
diperintahkan untuk mengingatkan kekeluarganya, agar selain mereka mendapat
pelajaran darinya bahwa merekapun sesungguhnya terancam denga adzab bila ttap
berada dalam kemusyrikan dan tidak mau beriman.[3][7]
Begitu juga ayat ini menyuruh supaya dipertakuti
dengan siksa dan hukuman karib kerabatmu sendiri dan tidak akan terlepas dari
hukuman dan siksaan itu, meskipun anakmu, bapakmu, ibumu, saudaramu, dsb.
Semuanya itu dihukum bila bersalah dan berdosa. Maka tidak ada familisme dan
kawanisme dalam islam. Melainkan semuanya itu tunduk kepada hukum yang satu
dengan tiada memandang bulu. Inilah keadilan yang mutlak dalam islam. Dengan
keadilan semacam inilah kaum muslimin dahulu kala memerintahi dunia. Begitu
juga allah menyeru nabi supaya jangan berlaku sombong terhadap orang-orang
mukmin yang menjadi pengikutnya. Hal ini patut ditiru oleh kepala-kepala dan
pemimpin-pemimpin.[4][8]
Demikian
ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan ummatnya agar tidak mengenal pilih
kasih/ memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini
berarti nabi dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari
kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada
rasul SAW. karena semua adalah hamba allah, tidak ada perbedaan antara keluarga
/ orang lain. bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu
disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak
mulia.[5][9]
Pemberian
peringatan yang khusus ini adalah sebagian dari pemberian peringatan umum yang
untuk itu rasulullah SAW diutus, sbgai firman :
ولتنذ
را م القرى ومن حو لها
“ Dan agar kamu memberi peringatan kepada
penduduk makkah dan orang orang yang berada diluar lingkungannya” (an’am, 6:92)
لتبشربه المتقين وتنذربه قوما لدا
“… agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan
al-qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa dan agar kamu member peringatan
dengannya kepada kaum yang membangkang”.
Didalam hadist dan ayat tersebut
terdapat dalil bahwa kedekatan dalam nasab tidak bermanfaat jika jalan yang
ditempuh berbeda. Juga terdapat dalil atas pembolehan orang mu’min mengadakan
hubugan dengan orang kafir, serta memberinya petunjuk dan nasehat, berdasarkan
sabda rasul: “sesungguhnya kalian mempunyai rahim dan aku membasahinya dengan
basahnya”.[6][10]
b.
Asbabun Nuzul
Ketika ayat ke 214 diturunkan, maka rasulullah memulai
dakwahnya kepada keluarga serumah, kemudian baru keluarga yang terdekat. Hal
ini menyinggung perasaan kaum muslimin, mereka merasa terabaikan. Sehubungan
dengan hal itu, maka allah SWT. Menurunkan ayat 215 sebagai perintah untuk
memperhatikan kaum muslimin yang lain. (HR.Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij).[7][11]
﴿ روي
البخاري ومسلم أنه لما نزلت هذه الايۃ أتي النبي صلى الله عليه وسلم الصفا فصعد
عليه ثم نادي : يا صاحباه ! فاجتمع الناس إليه بين رجل يجيء اليه وبين ﺭجل يبعث
رسوله. فقال رسول الله صلى ألله عليه وسلم: يا بني لؤي أرآيتم لوأخبرتكم أن خيلا
بسفح الجبل تريدأن تغير عليكم أصدقتموني؟ قالوا: نعم. قال "فائني نذيرلكم بين
يدي عذاب شديد" فقال أبولهب: تبالك ساءر اليوم! أما دعوتنا إلا لهذا؟ وأنزل
الله: تبت يداأبي لهب وتب... ﴾[8][12]
Ketika allah SWT menurunkan ayat ke 214 maka rasulullah naik kegunung
shafa, seraya mengundang: “wahai saudaraku!” sedang beberapa saat berkumpul
umat manusia. Beliau bersabda: wahai bani abdul muthalib, bani fikr, bani
luayi, adalah kamu sekalian membenarkan manakala aku mengatakan bahwa unta
dipegununan ini akan mengubah nasibmu? Jawab “ ya, percaya”. Rasulullah
kemudian bersabda lagi: ”maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan
bagimu. Dan bila kamu membangkang maka dihadapku ada siksa yang pedih”. Mendengar
sabda nabi ini abu lahab langsung tampil berbicara : celaka kamu Muhammad pada
hari ini. Adakah kamu sengaja mengumpulkan kami hanya untuk mendengar ocehanmu
itu. Maka allah SWT. Menurunkan ayat-ayat yang terkandung dalam surat al-lahab.
Ketika ayat ini turun, Rasul SAW naik ke puncak bukit
Shafa, di Mekah, lalu menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar 'Ady
dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim
utusan. Abu Lahab pun datang, Ialu Nabi SAW bersabda: "bagaimana pendapat
kalian, jika aku berkata bahwa:di belakang lembah ini ada pasukan berkuda
bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?" mereka
berkata: "Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali
kebenaran". Lalu Nabi bersabda: "Aku menyampaikan kepada kamu semua
sebuah peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang
pedih". Abu Lahab yang mendengar sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi
SAW berkata: "celakalah engkau sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau
mengumpulkan kami? Maka turunlah surah Tabbat Yada Abi Lahab" (HR.Bukhori,
Muslim, ahmad, dan lain-lain melalui ibn abbas(. Demikianlah ayat ini
mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi
kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan.Ini berarti Nabi
Muhammad SAW dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari
kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada
rasul SAW, karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga
atau orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu
disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri
dengan ilmu serta akhlak yang mulia.
(HR. Ahmad dari Ibnu Abbas Imam Bukhari Muslim Tirmidzi
& Nasa’i meriwayatkan dari A’masy).[9][13]
﴿ وأخرج
مسلم بإسناده عن عائشة رضي الله عنها قالت: لما نزلت: " وا نذر عشيرتك الأقربين.
قام رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا فاطمةابنة محمد وياصفية ابنةعبد
المطلب. يابني عبدالمطلب لاأملك لكم من الله شيئا سلوني من مالي ماشئتم ﴾[10][14]
Ketika ayat ke
214 diturunkan, maka rasulullah SAW. Langsung berdiri seraya berkata: “wahai
Fatimah binti muhammad, shafiyah binti abdul muthalib, bani abdul muthalib, aku
tidak memiliki sesuatu apapun dihadapan allah yang dapat menyelamatkanmu.
Ambillah hartaku sekehendak hatimu.”
Ketika ayat ke 214 diturunkan, rasulullah segera
berdakwah kepada keluarga dengan mengatakan :”wahai orang-orang quraisy selamatkanlah dirimu dari api neraka,
wahai orang-orang bani hasyim selamatkanlah
dirimu dari api neraka, wahai orang-orang
bani muthalib selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Fatimah binti
muhammad selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab dihadapan allah aku tidak
memiliki apa-apa kecuali dengan kamu hanyalah ikatan keluarga belaka. (HR.
ahmad dari abu hurairah imam muslim dan tirmidzi meriwayatkan pula dari abdul
malik bin umar).
Pada suatu waktu abu darda berkhutbah dihadapan umat
manusia sedangkan anaknya berada disisinya sedangkan kaum keluarganya berada
dimasjid sambil bercanda ria. Maka ada seseorang yang mengajukan pertanyaan
kepada abu darda bagaimana keadaan manusia yang mencintai ilmu berada disisimu,
sementara sanak kerabatmu sendiri bercanda ria? Jawabannya : aku pernah
mendengar rasulullah bersabda:” orang yang paling zuhud didunia adalah nabi,
dan orang yang paling menentang nabi adalah sanak keluarga.” sehubungan dengan
itu maka allah menurunkan ayat ke 214-220 sebagai perintah membina keluarga dan
masyarakat dan bila mereka mendurhakai ajaran agama maka itu diluar
tanggungjawab rasulullah. (HRibnu asakir dari amrin bin samarrah dari Muhammad
bin saaqah dari abdul wahid binti abu bakar as shidiq).[11][17]
Hadist-hadist menerangkan bagaimana rasulullah
menyambut seruan itu dan bagaimana beliau berusaha menyampaikannya kepada
kerabatnya yang terdekat. Beliau tidak dapat berbuat apa-apa dalam pembelaan
terhadap urusan mereka, dan hanya dapat menyandarkan kepada allah seluruh
urusan akhirat mereka. Rasulullah menjelaskan bahwa hubungan kerabat tidak
bermanfaat sekali bila tidak diikuti dengan ikut serta dalam amal shaleh.
Dijelaskan beliau tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka dari
adzab allah, pada hal beliau adalah rasul allah. Inilah islam dan dalam
kejelasan dan kemurniannya. Dan ia meniadakan perantara antara hamba dan allah
bahkan perantara seorang rasul-nya sekalipun.
Demikianlah allah menerangkan kepada rasul –nya
bagaimana seharusnya beliau bermu’amalah dengan orang-orang beriman yang
menyambut dakwah yang dibawanya.[12][18]
ISI KANDUNGAN Q.S AS-SYU’ARO AYAT 214
Al-Quran Surat
Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti
sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya
seluruh manusia seperti yang dijelaskan dalam hadits tadi. Selain itu
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh
karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama
anak sangatlah dominan.
ayat As-syuaraa’ ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah
peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”
Di sini jelas,
perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek
pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia.
Selain itu Adapun dasar operasional pendidikan yang harus kita ketahui terdiri
atas, Dasar historis, Dasar social, Dasar ekonomi, Dasar politik dan
administrative, Dasar psikologis , Dasar filosofis. Lingkungan keluarga
merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan
keluarga (orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah
dominan, hal ini menunjukkan orangtua mempunyai kewajiban untuk memberikan
pendidikan kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka.
Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim: 6) bahwa terdapat perintah
langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah
tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
”Al Aqrobyn”
mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan
peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan
hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Namun hal ini bukan
berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Muthollib, tetapi
juga untuk seluruh umat Islam. Jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh
umat Islam.
Hadist Yang Berkenaan Dengan Surat Asy-Syu’ara Ayat 214
Dalam pendidikan dan pembelajaran, secara epistimologi menurut Islam dikenal
tiga macam bentuk penelaahan.
Pertama Telaah atas sumber pokok ajaran islam yaitu AlQuran dan hadist, Kedua
telaah hasil pemikiran dalam penelitian para ulama dan pakar, dan yang Ketiga
adalah telaah atas bentuk perilaku ummat islam yang merupakan refleksi
keyakinan terhadap ajaran yang disesuaikan dengan ruang dan waktu.
Dan disini saya akan menelaah tentang telaah sumber pokok ajaran islam yaitu
AlQuran dan khususnya dalam pembahasan ini “OBJEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
AL-QURAN Surat ASY-SYU’ARA AYAT 214”.
Setelah Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. menghindari kemusyrikan, yang
tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini
ayat 214 berpesan lagi kepada beliau bahwa : Hindarilah segala yang daoat
mengundang murka ALLAH, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat tanpa pilih kasih. Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan hiburan ALLAH
kepada nabi Muhammad yang telah dikecewakan oleh dikap kaumnya dalam menanggapi
dakwah yang disampaikannya dengan mengatakan memang demikian sikap orang-orang
musyrik itu terhadap dakwah yang disampaikan kepada mereka.pada ayat ini
diterangkan bahwa Rosullulloh diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada
kerabat-kerabatnya yang terdekat.
Selain itu ada juga ada beberapa hadist yang berkenaan dengan ayat mulia ini,
beberapa hadist-hadistnya diantaranya adalah :
1. Hadist pertama: Imam ahmad meriwayatkan bahwa ibnu abbas berkata “Ketika
allah menurunkan ayat : وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah
peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” Nabi Mendatangi bukit shafa
lalu naik ke atasnya dan memanggil “Hai orang-Orang yang ada di pagi hari, lalu
berhimpunlah banyak orang menuju beliau baik orang yang datang langsung atu
mengutus seseorang,
maka Rasulullah bersabda: يابني عبد المطلب, يابني فهر يابني لؤي, ارايتم لواخبرتم
ان حيلا بسفح هذا الحبل تريد ان تغير عليكم صدقتموني قالو:نعم. قال:فإني تذير لكم بين
يدعذاب شديد. Ya bani abdul mutholib, ya bani fahr, ya bani lu-ay, apa pendapat
kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian bahwa satu pasukan kuda yang ada
dibalik gunung ini hendak menyerang kalian apakah mempercayaiku? Mereka
menjawab”ya” beliaupun brsabda sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan
dihadapan robb yang memiliki adzab yang “pedih” . Lalu abu lahab berkata
“celakalah sepanjang hari , apakah engkau memanggil kami hanya untuk ini? Lalu
Allah turunkan "تبت يداابي لهب وتبت " Binasalah kedua tangan abu
lahab dan sesunguhnya dia akan binasa. Q.S: Al-lahab:1, HR Al-Bukhari, Muslim,
at-Thirmidzi dan an-Nasa’i.
2. Hadist kedua : Imam ahmad berkata bahwa Aisyah berkata tatkala turun ayat : وَأَنْذِرْ
عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat”, Rasulullah memanggil orang-orang Quraish umum maupun secara
khusus lalu beliau bersabda: يافاطمة بنت محمد ياصافية بنت عبد المطلب يا بني عبد
المطلب لا املك لكم من الله شيئا سلوني من مالي ماشئتم “Ya Fathimah puteri
Muhammad, ya Shafiyah puteri Abdul Muthalib ya bani Abdul Muthalib. Aku tidak
dapat membela kalian sedikitpundari Allah .Mintalah kalian bagian hartaku apa
yang kalian inginkan “(H.R Muslim).
3. Hadist ketiga : Imam Ahmad meriwayatkan bahwa abu hurairah berkata “tatkala
turun ayat ini وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Rasulullah memanggil orang-orang
Quraisy, baik secara umum maupun secara khusus,
lalu beliau bersabda: يا معشر قريش انفدوا انفسكم من النلر, يامعشر بني كعب انفدوا
انفسكم من النار يامعشر بني عبد المطلب أنقد انفسكم من النار, يا فاطمة بنت محمد أن
انقد نفسك من النار فإنيى والله لااملك لكم من الله شيئا إلاأن لكم رحماسأبلها ببلالها.
“Hai orang-orang Quraiys, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai, Bani
Ka’bah selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani hasyim selamatkanlah
diri kaian dari api neraka. Hai bani abdul mutrholib selamatkanlah dari api
neraka. Hai Fathimah puteri Muhammad selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Sesungguhnya aku demi nama Allah tidak dapat membela kalian sedikitpun
dihadapan Allah kecuali kalian memiliki hubungan rahim yang akan memercikan
basahnya “(diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dari Hadist abdul malik bin
Umair dan AT-Tirmidzi berkata, Gharib dari jalur ini diriwayatkan oleh Nasa’I
serta keduanya di tahrij didalam ash-Shahih dari hadist as-Zuhri.
4. Hadist keempat : Imam ahmad meriwayatkan bahwa ali berkata “tatkala turun
ayat ini: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Nabi menghimpun keluarganya hingga mencapai
30 orang lalu mereka makan dan minum kemudian
nabi berkata kepada mereka: من يضمن عني ديني ومواعدي ويكون معي في الجنة ويكون خليفتي
في اهلي فقال رجل "لم يسمه شريك " يارسول الله: انت كنت بحرا من قوم بهذا
ثم قال "الآخر ثلاثا قال "فعرض ذلك علي اهل بيته, فقال علي"انا"
Siapa yang dapat menanggung hutang dan perjanjianku dan ia akan bersamaku di
dalam surge serta menjadi penggantiku , maka berkata seorang laki-laki yang
tidak disebut namanya oleh syuraik “Hai Rasulullah Engkau adalah lautan
siapakah yang mampu melaksanakan hal tersebut kemudian beliau mengatakan hal
itu sebanyak tiga kali kepada yang lainya dan disodorkanya kepada saudaranya
dan keluarganya, Maka Ali berkata”aku”.
Allah memerintahkan Nabi muhammada agar menyampaikan agama kepada kerabatnya,
dan menyampaikan janji dan ancaman ALLAH terhadap orang-orang yang mengingkari
dan menyekutukan-Nya. Diriwayatkan oleh al-bukhari, muslim, dan perawi lainnya
dari Abu Hurairah bahwa ia berkata,”Tatkala ayat ini turun, rasullullah lalu
memanggil orang-orang quraish untuk berkumpul di Bukit Safa.
Diantara mereka ada yang datang sendiri, dan ada yang mengirimkan wakilnya.
Setelah berkumpul lalu Rasullullah berkhutbah,”Wahai kaum Quraisy,
selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai
kesanggupan member manfaat kepadamu. Wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai,
selamatkanlah dirimu dari api api neraka, maka sesunnguuhnya aku tidak
mempunyai kesanngupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu.
Hai Bani Qusai selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak
mempunya kesanggupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Ahi
Baini Abdul manaf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak
mempunyai kesanggupan untuk member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu,
ketahuilah aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja’.
Ayat ini diturunkan pada awal kedatangan Islam ketika Nabi Muhammad mulai
melaksanakan dakwahnya.Beliau mula-mula diperintahkan ALLAH agar menyeru
keluarganya yang terdekat.Setelah itu secarab berangsur-angsur menyeru
masyarakat sekitarnya, dan akhirnya kepada seluruh manusia. Fitrah beragama
merupakan potensi yang mempunyai kecendrungan untuk berkembang.Namun fitrah ini
dipengaruhi oleh factor ekternal da internal.
Menurut Al-Maraghi, pemberian peringatan dalam surat
Asy-Syu’ara’: 214 di atas, sifatnya adalah pemberian peringatan secara khusus,
dan ini merupakan bagian dari peringatan yang bersifat umum, yang untuk itulah
Rasulullah s.a.w. diutus. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:[8]
“Dan agar kamu member
peringatan kepada (penduduk) Ummul qura (Makkah) dan orang-orang yang berada di
lingkungannya.” (QS.
Al-An’am: 92)
Al-Maraghi juga menambahkan,
bahwa kedekatan nasab atau keturunan tidak memberi manfaat sama sekali
seandainya jalan keimanan yang ditempuh berbeda. Dalam kisah ayat di atas
terdapat dalil pembolehan interaksi antara mukmin dan kafir, serta memberinya
petunjuk dan nasehat.[9]
Hadits selanjutnya
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم
: مَنْ دَعَا اِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلاجْرِ مِثْلُ اُجُوْرِ مَنْ
تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ
اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا اِلَى الضَّلالَةِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الاثْمِ
مِثْلُ اَثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اَثَامِهِمْ شَيْئًا
a.
Terjemah Hadits
Dari Abu Hurairah ra
ia berkata : Rosulullah SAW bersabda :
Barang siapa yang hendak mengajak kepada kebaikan maka dia akan memperoleh
pahala atas perbuatan baiknya itu serta pahala orang yang mengikuti dan
melaksanakan kebaikan dengan tanpa dikurangi sedikit pun. Sebaliknya bagi siapa
saja yang mengajak kesesatan atau kemungkaran, maka dia mendapat dosa sebagai
balasan atas perbuatannya sendiri (ditambah) dosa sebanyak dosa orang yang
mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun. (HR Abu Dawud, Ahmad, Nasai, Turmudzi
dan Ibnu Majah)
b.
Penjelasan Hadits
Nabi Muhammad saw menjelaskan kepada kita bahwa pahala
orang berdakwah itu besar bukan saja pahala yang diberikan Allah atas perbuatan
baiknya yang dilakukan sendiri, tetapi juga akan diberikan pahala sebanyak
pahala orang-orang yang mengikuti perbuatan baik yang dianjurkan. Pahala ini
diberikan oleh Allah hingga hari akhir tanpa dikurangi sedikit pun. Hal ini
menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya yang dikaruniakan kepada orang-orang
yang dikehendaki.
Sebaliknya, orang yang mengerjakan kejahatan dan
kemudian dia menganjurkan atau mengajak orang lain untuk melakukan seperti yang
dia lakukan, maka orang tersebut mendapatkan dosa atas perbuatan jahat yang
dilakukan, maka orang tersebut mendapat dosa atas perbuatan jahat yang dia lakukan
dan ditambah dosa sebanyak dosanya orang-orang yang mengikutinya tanpa
dikurangi sedikit pun sampai hari kiamat.
Ancaman Allah seperti ini sangat wajar sekalipun yang
berbuat adalah orang lain, tetapi perbuatan itu terjadi dikarenakan ajakan atau
anjuran. Bila tidak diajak atau dianjurkan, sangat mungkin orang lain tidak
melakukannya. (DEPAG : 2002, hal 143-144)
Imam Ath-Thabari dalam
tafsirnya tentang ayat ini berkata,
"Wahai orang yang benar
keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, 'Peliharalah diri kalian,' Hendaklah
satu sama lain saling mengajarkan sesuatu yang membuat kalian dapat berlindung
dan terhindar dari neraka, yaitu apabila mereka beramal dalam ketaatan kepada
Allah. Sedangkan firman-Nya 'Dan (lindungi) keluarga kalian dari neraka.' Maksudnya
adalah ajarkan keluarga kalian amal ketaatan kepada Allah yang dapat melindungi
mereka dari api neraka.
(Tafsir Ath-Thabari, 28/165)
Al-Qurthubi berkata,
"Muqatil berkata, ini
merupakan hak yang menjadi kewajiban terhadap dirinya, anaknya, keluarganya dan
budaknya. Ilkia berkata, 'Kita wajib mengajakan agama dan kebaikan terhadap
anak-anak kita, atau adab apa saja yang tidak dapat mereka tinggalkan.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وأْمُر أهلك بالصلاة واصطبر
عليها (سورة طه: 132)
"Dan perintahkanlah
kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)
Juga terdapat dalam hadits
مروهم بالصلاة وهم أبناء سبع
"Perintahkan mereka
(anak-anak kalian) untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh
tahun."
(Tafsir Al-Qurthubi, 18/196)
Seorang muslim, siapapun dia,
adalah orang yang mengajak kepada jalan Allah Ta'ala, maka jadikanlah orang
yang pertama mendapatkan dakwahnya adalah anak-anak dan keluarganya, kemudian
orang-orang berikutnya. Allah Ta'ala, saat menugaskan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam untuk berdakwah, Dia berfirman kepadanya, "Dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," (QS. Asy-Syuara: 214),
karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih
sayangnya.
وجعل الرسول صلى الله عليه
وسلم مسؤولية رعاية الأولاد على الوالدين وطالبهم بذلك :
Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam juga menjadikan perawatan anak sebagai tanggung jawab orang tua dan
menuntut mereka untuk itu.
Dari Abdullah bin Umar, dia
berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" كلكم راع وكلكم مسئول
عن رعيته الإمام راع ومسئول عن رعيته والرجل راع في أهله وهو مسئول عن رعيته
والمرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها والخادم راع في مال سيده ومسئول عن
رعيته قال وحسبت أن قد قال والرجل راع في مال أبيه ومسئول عن رعيته وكلكم راع
ومسئول عن رعيته " . رواه البخاري ( 853 ) ومسلم ( 1829 )
"Semua kalian adalah
pemimpin dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Kepala
negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang bapak
pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Pembantu pemimpin terhadap harta
masjiannya dan akan ditanya akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah
mengatakan, seseorang peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya" (HR. Bukhari, no. 853, Muslim, 1829)
Di antara kewajiban anda
menumbuhkan sejak dini kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta mencintai
ajaran Islam. Hendaknya anda kabarkan bahwa Allah memiliki neraka dan surga.
Neraka Allah sangat panas, bahan bakarnya dari manusia dan batu.
Dari Ibnu Abbas, dari
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" علقوا السوط حيث يراه
أهل البيت ، فإنه أدب لهم " . رواه الطبراني ( 10 / 248 ) . والحديث : حسّن
إسنادَه الهيثمي في " مجمع الزوائد " ( 8 / 106 ) .
"Gantungkan pecut di
tempat yang dapat dilihat keluarga, karena itu merupakan pendidik bagi
mereka." (HR. Thabrani, 10/248)
Hadits ini dinyatakan hasan
oleh Al-Haitsami dalam Majma Zawaid (8/106) Al-Albany menyatakan dalam shahih
Al-Jami, no. 4022, hadits ini hasan.
Pendidikan anak hendaknya
berimbang antara anjuran dan peringatan. Yang lebih penting dari itu semua
adalah memperbaiki lingkungan tempat anak tinggal dengan mewujudkan sebab-sebab
hidayah bagi mereka, yaitu dengan komitmennya pendidik dan pengasuh mereka yang
tak lain adalah kedua orang tua mereka.
Tetang surah An-Nisa Ayat 3
1. Surat An-Nisa [4] Ayat 3
وَإِنْ خِفْتُمْ
أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ
مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ
مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا(3)
2.
Terjemah Surat An-Nisa [4] Ayat 3
Dan jika kamu takut
tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu
mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka
(kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu
adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Hasby Ash Shiddiqie, dkk,
1984: )
3. Penafsiran Kata-kata Surat An-Nisa [4] Ayat 3
|
تُقْسِطُوا
|
Berbuat adil
|
|
فَانْكِحُوا
|
Maka nikahilah
|
|
مَا طَابَ
|
Apa yang
dihalalkan
|
|
مَثْنَى وَثُلَاثَ
وَرُبَاعَ
|
Dua-dua atau
tiga-tiga atau empat-empat
|
|
أَدْنَى
|
Lebih dekat
|
|
تَعُولُوا
|
Durhaka dan
berbuat aniaya
|
4. Penjelasan Tafsili Surat An-Nisa 3
Keluarga adalah
unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat di mana hubungan yang
terdapat di dalamnya, sebagian besarnya, bersifat hubungan-hubungan langsung.
Dalam keluarga itulah berkembang individu dan terbentuknya tahap-tahap awal
proses pemasyarakatan, dan melalui interaksi dengannya anak memperleh
pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi, dan sikapnya dalam hidup
dan dengan itu ia memperoleh keterampilan dan ketenangan.
Pembentukan
keluarga dalam Islam bermula dengan terciptanya hubungan suci yang menjalin
seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui pernikahan yang halal, memenuhi
rukun-rukun dan syarat-syarat syahnya. Oleh sebab itu kedua suami istri itu
merupakan dua unsur utama dalam keluarga. Dengan kata lain keluarga adalah
perkumpulan yang halal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang
bersifat terus menerus dimana yang satu merasa tenteram dengan yang lain sesuai
dengan yang ditentukan oleh agama dan masyarakat.
Ketika suami istri
dikarunia seorang anak atau lebih, maka anak-anak itu menjadi unsur utama
ketiga pada keluarga tersebut di samping dua unsur sebelumnya. Masing-masing
unsur yang tiga ini, yaitu suami istri dan anak mempunyai peranan penting dalam
membina dan menegakkan keluarga, sehingga kalau salah satu unsur itu hilang,
maka keluarga menjadi goncang dan keluarga kehilangan keseimbangan. Jika
keluarga kehilangan unsur pertama, yaitu suami atau bapak, maka keluarga itu
kehilangan tongkat utamanya yaitu pencari rezekinya, di samping unsur
kekuasaan, pimpinan, jaminan, tauladan yang baik dan sumber terpenting dalam
bimbingan dan pendidikan. Kalau unsur kedua yaitu isteri atau si ibu, maka
keluarga kehilangan sumber utama bagi ketentraman, ketenangan, kasih sayang,
yang harus wujud pada setiap keluarga. Yang paling banyak menerima hilangnya
istri adalah anak-anaknya, terutama kalau mereka masih kecil. Begitu juga kalau
unsur ketiga hilang, yaitu anak-anak, keluarga yang demikian tidak menikmati
kebahagiaan sebesar-besarnya dalam dunia ini, sebagaimana ia selalu terancam
oleh kegoncangan hidup yang kadang-kadang dapat menghapus namanya sama sekali
dari permukaan bumi ini.
Islam memandang
keluarga sebagai lingkungan atau mileu pertama bagi individu di mana ia
berinteraksi. Dari interaksi dengan mileu pertama itu individu memperoleh
unsur-unsur dan ciri-ciri dasar dari kepribadiannya. Juga dari situ ia
memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan emosinya dan dengan itu
ia merobah banyak kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan dan
kesediaannya menjadi kenyataan.
Dalam surat An-Nisa
ayat 3 dijelaskan bahwa apabila kamu merasa takut terhadap dirimu sendiri
karena takut memakan harta istri yatim, maka janganlah kamu kawin dengannya.
Karena sesungguhnya Allah telah memberikan kekuasaan terhadap kamu untuk tidak
menikahi anak yatim, yaitu dengan menghalalkan kamu boleh nikah dengan
wanita-wanita selain yatim, satu, dua, tiga atau empat.
Tetapi jika kamu
merasa tidak akan bisa berbuat adil di antara dua orang istri-istri, maka kamu
harus memegang satu istri saja. Perasaan takut tidak bisa berbuat adil bisa
dirasakan dengan zan (kepastian) dan juga bisa dengan syak
(ragu-ragu) terhadapnya. Laki-laki yang dibolehkan lebih dari satu hanyalah
orang yang merasa yakin dirinya bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya
nanti. Keyakinan dalam hal ini tidak boleh dicampuri dengan perasaan ragu-ragu.
Hendaknya kalian
mencukupkan hanya dengan seorang istri dan wanita-wanita merdeka, dan
bersenang-senanglah dengan wanita yang kamu sukai dari hamba-hamba wanita,
karena tidak ada kewajiban berbuat adil diantara mereka. Tetapi mereka hanya
berhak mencapat kecukupan nafkah, sesuai dengan standar yang berlaku dikalangan
mereka. (Ahmad Mustofa Al-Maraghi, 1993: 234)
Berlaku adil dalam
hal ini hanya selagi masih bisa dilakukan oleh kemampuan manusia, seperti
memberi rumah yang sama, pakaian yang sama, dan sebagainya. Sedangkan hal yang
di luar kemampuan manusia seperti kecenderungan hati manusia terhadap seorang
istri, tidak terhadap istri-istri yang lain.
Oleh karena itu
Rasullualh memerintahkan untuk menikah bagi mereka yang telah memiliki
kesanggupan baik dzahir maupun batin, sebagaimana sabdanya:
يَا مَعْشَرَ
الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ
لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ
فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya : Wahai
golongan pemuda! siapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan yiaitu
zahir dan batin untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin. Sesungguhnya
perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka
sesiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu dapat
mengawal iaitu benteng nafsu (Al-Bayan, Hadits 809)
Beberapa keistimewaan poligami
Pada prinsipnya
kebahagiaan berumah tangga bagi seorang suami hanya apabila mempunyai seorang
istri saja, karena bentuk rumah tangga seperti itu adalah yang paling sempurna,
yang seharusnya dipelihara oleh setiap individu dan diyakini. Tetapi memang ada
beberapa kondisi yang dialami seseorang yang mendorongnya menyimpang dari
ketentuan tersebut karena ada kemaslahatan-kemaslahatan penting yang berkait
dengan kehidupan rumah tangganya, atau kemaslahatan umatnya. Sehingga poligami
bagi dirinya tidak bisa diletakkan lagi: kondisi-kondisi tersebut ialah sebagai
berikut:
a.
Bila seorang suami beristri seorang wanita mandul, sedang ia sangat
mengharapkan anak. Termasuk kemaslahatan sang istri dan kemaslahatan mereka
(suami istri), hendaknya suami menetapkan istri pertamanya, kemudian mengawini
wanita lain. Terlebih lagi jika status sang suami sebagai seorang yang
terpendang dan memiliki kekayaan, misalnya seorang raja atau amir.
Tentang pentingnya
unsur anak ini sendiri banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menegaskan
bagaimana tabiat manusia suka mempunyai anak sebagai salah satu perhisan hidup
dan sumber kebahagiaan umat manusia jika anak-anak shaleh, firman Allah SWT,
dalam surat 3 (Ali Imran) ayat 14, yaitu:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ
حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ
مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ (ال عمران: 14)
Artinya: “Dijadikan
indah (pada pandangan) manusia kecintaan kepada yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, … ”
(Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 77).
Dalam firman Allah
SWT, surat 18 (Al-Kahfi) ayat 46, yaitu:
الْمَالُ
وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ
عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (الكهف: 46)
Artinya: “Harta dan
anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi
salah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk
menjadi harapan” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 450).
b.
Bila istri telah tua, dan telah mencapai umur yai’sah (tidak haid) lagi,
kemudian sang suami berkeinginan mempunyai anak, dan ia mampu memberikan nafkah
kepada lebih dari seorang istri, mampu pula menjamin kebutuhan anak-anaknya
termasuk pendidikan mereka.
c.
Bila sang suami tidak cukup hanya mempunyai seorang istri, demi terpeliharanya
kehormatan diri (agar tidak zina) karena kapabilitas seksualnya memang
mendorong untuk berpolgami, sedang sang istri kebalikannya. Atau karena masa
haid sang istri, umpamanya terlalu panjang, sehingga memakan waktu sebagian
besar dari bulannya. Sehingga kini posisi suami dihadapkan pada dua alternatif.
Terkadang ia harus kawin lagi, atau terjerumus ke dalam perbuatan zina yang
akibatnya menyia-nyiakan agama, harta benda, dan kesehatannya. Akibatnya lebih
berbahaya bagi seorang istri disbanding jika sang suami memadunya dengan istri
lain yang disertai keadilan sang suami terhadap semuanya, sebagaimana yang
menjadi syarat dibolehkannya poligami dalam Islam.
d.
Bila dari hasil sensus kaum wanita lebih banyak dari kaum pria, dalam suatu
negara, dengan perbandingan yang mencolok. Hal ini bisa terjadi setelah suatu
negara bisa saja mengalami peperangan yang banyak menewaskan kaum pria. Dalam
keadaan seperti itu tidak ada sarana lain bagi wanita dalam mencari kasab,
kecuali hanya dengan menjual diri (kehormatannya) akibatnya jelas akan membuat
wanita itu hidup sengsara, karena harus menjamin nafkah diri dan anak-anaknya
yang telah kehilangan seorang ayah sebagai penanggung kebutuhan mereka.
Terlebih lagi jika hal itu terjadi setelah melahirkan dan dalam masa penyusuan,
sungguh mengharukan (Ahmad Mustofa Al-Maraghi, 1993: 326-327).
Berdasarkan
keterangan di atas, jelas ada dua hal yang dapat ditarik kesimpulan. Pertama
poligami tidak diperbolehkan manakala sorang suami tidak dapat berbuat adil
terhada. Dan kedua poligagami diperbilehkan manakala keempat masalah di atas
terjadi.
Pendidikan Keluarga
1.6.2.1 Pendidikan keluarga
1.6.2.1.1 Menurut Lunggalung Pendidikan keluarga
adalah pendidikan dalam bentuk penwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak
dimana tunggung jawab untuk mendidik anak ini merupakan tanggung jawab primer,
karena anak merupakan buah dari kasih sayang yang diikat dalam tali perkawinan
antara suami istri dalam suatu keluarga.[20]. Berlangsungnya pendidikan keluarga
diharapkan anak mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia
dewasa yang memiliki sifat positif pada agama, kepribadian yang kuat dan
mandiri, potensi jasmani dan rohani serta intelektual yang berkembang secara
optimal.
1.6.2.1.1 Menurut Khon. adalah sikaf orang tua
dalam memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hukuman dan hadiah,
cara orang tua memberikan otoritas dan cara orang tua perhatian dan tanggapan
terhadap keinginan anak.[21] Dengan demikian dalam pendidikan ini
bagaimana cara mendidik orang tua kepada anak baik secara langsung atau tidak
langsung.
1.6.3 Keluarga
Keluarga : Orang
seisi rumah yang menjadi tanggungan.[22]
Dalam islam, keluaga
dikenal dengan istilah Usrah, Nasl, ‘ali, dan Nasb. Keluarga
dapat diperoleh melalui keturunan, perkawinan, persusuan dan pemerdekaan.[23]
Definisi keluarga
sangat bermacam – macam tergantung dari deminsi (sudut pandang)
Jauhi Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Penyebab
kekerasan dalam rumah tangga yaitu sikap nusyuz suami istri. Dua upaya
pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, yaitu agar suami sebagai qawwam mampu
melihat sisi baik pasangan, menasehati dan memperingatkan nusyuz istri dengan
penuh kasih sayang. Upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga lainnya
adalah sebagai berikut:
1.
Beri kewajiban nafkah terbaik
Harus diakui bahwa
kewajiban nafkah memang berasal dari suami. Laki-laki itu sebagai pelindung
bagi perempuan karena Allah telah memberikan kelebihan sebagian mereka
(laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka telah
memberikan nafkah dan hartanya. (QS. An-Nisa 2:34), namun ini tidak serta merta
suami dapat semena-mena kepada istri.
Seyogianya, suami
yang bertakwa justru selalu berusaha mencukupi sekuat tenaga ekonomi keluarga,
meliputi istri dan anak. Berusaha mencukupi pemberian sandang pangan dan papan
yang terbaik yang dia mampu usahakan. Jangan sampai tega menyalurkan dana tanpa
ada musyawarah, suka-suka sendiri mengatur keuangan, dengan maksud kikir,
hitungan pada istri sendiri.
2.
Berkomunikasi
Setelah menikah
kecenderungan berkomunikasi straight tothe point (langsung) tak jarang yang
terbentuk adalah kalimat perintah, berita atau sekedar basa basi. Ini merupakan
atmosfer yang tidak sehat yang mengarah pada kekerasan verbal dan nonverbal.
Wujud komunikasi yang
terbaik secara nooverbal ungkapanbelaian cinta, kasih sayang, penuh perhatian,
sikap lembut yang dibumbui dengan kata-kata verbal langsung penuh keikhlasan.
Jangan heran jika banyak rumah tangga yang terasa hambar karena jarang dan irit
kmunikasi. Komunikasi yang sehat dibangun berlandaskan kejujuran mengingatkan
sebatas amar ma’ruf nahi mungkar. Selebihnya tawkal danmenyerahkan diri pada
Allah SWT sebgai penggegaman hati makhluknya.
Cara Mendidik Anak
1. Ajarkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Sejak
Usia Dini
Umumnya orang tua memiliki rasa khawatir yang berlebihan pada anak. Maka jangan
lagi terlalu berlebihan mengkhawatirkan anak serta over protektif. Belajarlah
untuk mempercayai buah hati anda namun tetap memantau dari jauh tanpa
pengekangan maupun melindungi kesalahan yang dilakukan. Ajarkan pada buah hati
anda mengetahui benda-benda miliknya serta merapikanya setelah bermain. Ketika
sudah masuk masa sekolah ajarkan mereka untuk mempersiapkan keperluanya, beri
uang saku dengan diarahkan untuk disisihkan sebagai tabungan.
2. Ajarkan dan Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak
Pada usia anak-anak mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika melihal
benda-benda atau sesuatu yang belum pernah dilihat dan pahami maka biasanya
mereka akan bertanya.
3.Ajar kan dan tumbuh kan kemampuan berpendapat anak
4. Ajar kan dan tumbuh kan rasa rasional,bersimpati,empati,dll
5.Beri tauladan yang baik dan jadi lah contoh
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alquran
Surat Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam
arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan
akhirnya seluruh manusia. Selain itu Lingkungan keluarga merupakan lingkungan
pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam
pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan. ayat As-syuaraa’ ayat 214 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ
الْأَقْرَبِين “Dan berilah peringatkan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat”(Q.S As-syuaraa’ ayat 214).
Di sini jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti
sebagai objek pendidikan yang utama.
- Saran
Dengan
mempelajari tafsir selain bisa mengetahui apa itu tafsir, dan kita bisa
mengetahui asbabun nuzul dari subuah ayat pendidikan agar nantinya peserta didik dapat menerapkan ajaran
yang terkandung pada Surat as-syu’ara 214 dalam kehidupan
sehari-hari, baik itu kepada Allah SWT, kedua orang tua, serta kepada
manusia-manusia yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dedi(2013).Surah as-syuara ayat 214-2015.Diakses 23 April 2012,dari
Ivannes ( 2012 ). Ayat-ayat tentang Objek
pendidikan.Diakses 11 April 2012,dari
33Namakunia(2012).Objek
Pendidikan dalam alquran.Diakses 26 november 2012,dari
Sari
Risna(2013).makalah Tafsir.Diakses 6 Juli 2013,dari
Sopiah
Opih(2014).Tafsir Taebawi.Diakses 11 November 2014,dari
Mamiekzone(2013). Objek pendidikan Surah
asy-Syu'ara: 214,Diakses 8 Februari 2013,dari
Muthohar Ahmad Mifdlol (2013).objek
pendidikan persepektif alquran.Diakses 26 januari 2013,dari
Prianto Muhammad Heri( 2014).Kewajiban
berdakwah.Diakses 22 Mei 2014,dari
Almunajid muhammad soleh (2015).Bagaimana
Mendidik Anak Menjadi Soleh.Diakses 10 oktober 2015,dari
Rosadi imron(2013).konsep membina keluarga
berdasar kan surat annisa ayat 3.Diakses 19 januari 2013,dari
Paiton Pabian(2013).Pendidikan agama menurut Alquran
surat luqman.Diakses 14 juli
2013,dari
Rowokele
Kua(2012).Mendidik keluarga Untuk Membina Keluarga Sakinah.Diakses 2 Juni
2012,dari
Wadaw
Suraz(2013).Surah As-syuara : 214.Diakses 18 September 2013,dari
http://surazwadaw.blogspot.co.id/