Selasa, 13 Oktober 2015

pengenalan filsafat



PENGENALAN FILSAFAT
a.       Pengertian Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Pengertian filsafat menurut para tokoh :
  1. Pengertian filsafat menurut  Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan 
  2. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada 
  3. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda. 
  4. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)  mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya. 
  5. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan  menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya. 
b.      Ilmu pengetahuan sebagai sketsa umum pengantar untuk memahami filsafat ilmu
Jika kita tinjau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat mencolok.pada permulaan sejarah filsafat yunani “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis,tetapi dalam hubungan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita melihat adanya kecendrungan yang lain,filsafat yunani kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi  terpecah pecah ( Bertens,1987 Nochelmans, 1982).
Lebih lanjut nochelmans 1982 mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.dengan demiokian dapatlah di kemukakan bahwa sebelum abad ke 17 ilmu pengetahuan sangat identik dengan filsafat.pendapat tersebut juga sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985),yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat sehingga defenisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang di anut.
Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu ilmu baru seperti ilmu filsafat yang pada akhirnya memunculkan pula ilmu-ilmu baru ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi. Oleh karena itu tepatlah apa yang di kemukakan oleh Van Peursen bahwa ilmu pengetahuan dapat di lihat sebagai suatu sistem yang saling jalin menjalin dan taat atas asas (konsisten) dari ungkapan ungkapan yang bersifat benar ridaknya yang dapat di tentukan.

c.       Fenomenologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan
Secara epistemologi dalam gejala terbentuknya pengetahuan manusia itu, yaitu antara kutub si pengenal dan kutub yang dikenal, atau antara subyek dan obyek.
Walaupun secara tegas keduanya berbeda, akan tetapi untuk membentuk sebuah pengetahuan keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain, dan keduanya wajib ada karena merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia.
Dalam hal ini pengetahuan dan ilmu pengetahuan, subyek adalah manusia dengan akal budinya, sedangkan obyek adalah kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Suatu kenyataan bahwa supaya ada pengetahuan, subyek harus terarah kepada obyek, dan sebaliknya obyek harus terbuka dan terarah kepada subyek.
Pengetahuan adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Maka tanpa ingin meremehkan peran penting dari obyek pengetahuan, manusia sebagai subyek pengetahuan memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap obyek jadinya merupakan faktor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia.
Pengetahuan terwujud kalau manusia sendiri adalah bagian dari obyek. Dari realitas alam semesta ini, berkat unsure jasmaniyah, manusia mampu menangkap obyek yang ada di sekitarnya karena tubuh jasmani manusia adalah bagian dari realitas alam semesta ini, serta dengan bantuan jiwa dan akal budinya, manusia mampu mengangkat pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain serta bersifat temporal, konkrit, jasmani-inderawi tadi ke tingka abstrak dan karena itu universal.
Pengetahuan manusia tidak hanya berkaitan dengan obyek konkrit, khusus yang dikenalnya melalui pengamatan inderawinya, melainkan juga melalui itu dimungkinkan untuk sampai pada pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain secara teoritis dapat dijangkau oleh akal budi manusia.
Pengetahuan manusia yang bersifat umum dan universal itulah memungkinkan untuk dirumuskan dan dikomunikasikan dalam bahasa yang bersifat umum dan universal untuk bias dipahami oleh siapa saja dari waktu dan tempat mana saja.
Berkat refleksi ini pula pengetahuan yang semula bersifat langsung dan spontan, kemudian diatur dan dilakukan secara sistematis sedemikian rupa, sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan, atau dapat pula dikritik dan dibela, maka lahirlah apa yang kita kenal sebagai Ilmu Pengetahuan.
Jadi Ilmu Pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung tadi, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.

d.      Filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan
pada awalnya merupakan satu kesatuan. Pembatasan ilmu pengetahuan dilakukan berdasarkan sistem filsafat yang dianutnya. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman terutama sejak zaman renaissance, abad XV, filsafat berkembang sangat pesat.
Perkembangan filsafat membuat ilmu pengetahuan juga berkembang pesat dan tumbuh cabang-cabang di dalamnya. Masing-masing cabang memisahkan diri dari batas filsafatnya dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Metodologi menjadi mata pelajaran yang sangat dipentingkan Tetapi seiring dengan itu timbul kecenderungan adanya isolasi, dan bukan lagi diferensiasi di antara cabang-cabang ilmu.
Perkembangan pesat ilmu pengetahuan juga menimbulkan kekaburan mengenai batas-batas antara cabang ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Interdependensi dan interrelasi ilmu semakin dirasakan. Dari situ dibutuhkan suatu ”overview” untuk meletakkan jaringan interaksi untuk saling menyapa menuju hakikat ilmu yang integral dan integratif. Kehadiran etika dan moral juga semakin dirasakan. Immanuel Kant (1724-1804) menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Semenjak itu refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian.
Dari situ, lahir di abad 18 cabang filsafat yang disebut Filsafat pengetahuan. Logika, filsafat bahasa, matematika, dan metodologi merupakan komponen-komponen utama pendukungnya. Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber dan sarana serta tata cara untuk menggunakan sarana itu guna mencapai pengetahuan ilmiah. Diselidiki pula arti evidensi, syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi apa yang disebut kebenaran ilmiah, serta batas-batas validitasnya. Dari sini lahir filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu menempatkan ilmu (pengetahuan) sebagai obyek sasarannya.[1]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar